RADARPAPUA - Penemuan fosil dinosaurus di Wyoming, Amerika Serikat, membuka babak baru dalam sejarah evolusi. Ahvaytum bahndooiveche, dinosaurus berusia 230 juta tahun, mengungkap bahwa dinosaurus telah hidup di belahan utara Bumi (Laurasia) jauh lebih awal dari yang sebelumnya diyakini. Penemuan ini menantang teori lama yang menyatakan bahwa dinosaurus pertama kali muncul di belahan selatan superkontinen Pangea, Gondwana, sebelum menyebar ke utara.
Dinosaurus ini, meski termasuk dalam garis keturunan awal sauropoda, jauh lebih kecil dibandingkan keturunannya yang raksasa. Ahvaytum bahndooiveche hanya setinggi sekitar 30 cm dan sepanjang 90 cm, seukuran ayam dengan ekor panjang. Fosilnya ditemukan pada lapisan batuan Formasi Popo Agie, dan penelitian menunjukkan bahwa spesies ini hidup selama atau sesaat setelah perubahan iklim besar yang dikenal sebagai episode hujan pluvial Karnian, yang menciptakan habitat lebih layak huni bagi dinosaurus awal.
Nama Ahvaytum bahndooiveche diberikan dalam bahasa Shoshone Timur, yang berarti "dinosaurus masa lampau." Ini adalah penghormatan kepada suku Shoshone Timur yang tanah leluhurnya mencakup lokasi penemuan fosil tersebut. Para tetua suku dan siswa sekolah menengah dari komunitas tersebut berperan penting dalam proses penamaan, menjadikan ini kolaborasi unik antara komunitas adat dan ilmuwan modern.
Selain penemuan ilmiah, penelitian ini juga menandai pendekatan baru dalam arkeologi dengan melibatkan perspektif masyarakat adat. Kolaborasi ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan, menghormati tanah adat, dan mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam penelitian akademik. "Hubungan yang terus terjalin ini adalah salah satu hasil terpenting dari penemuan Ahvaytum bahndooiveche," kata Amanda LeClair-Diaz, perwakilan suku Shoshone dan Arapaho Utara.
Penemuan ini bukan hanya tentang fosil, tetapi juga tentang membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan budaya, sekaligus menantang pemahaman lama tentang sejarah evolusi dinosaurus. Ahvaytum bahndooiveche kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang makhluk prasejarah yang masih menyimpan banyak misteri untuk diungkap.(aj)
Editor : Richard Lawongan