RADARPAPUA - Para arkeolog menemukan ukiran besar berbentuk unta di sebuah batu dekat tepi selatan Gurun Nafud, Arab Saudi.
Ukiran itu menggambarkan 12 unta liar seukuran aslinya. Unta ini adalah spesies yang sudah punah, pernah hidup ribuan tahun lalu di wilayah ini, tetapi belum diberi nama ilmiah. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Archaeological Research in Asia edisi Desember.
Tempat ini disebut Sahout. Meskipun sebelumnya telah diketahui, baru sekarang ukiran unta ini diperhatikan. Menemukan lokasi ukiran ini tidak mudah karena tempatnya terpencil dan sulit dijangkau.
Maria Guagnin, peneliti dari Max Planck Institute of Geoanthropology di Jerman, menjelaskan bahwa ukiran unta ini terletak di celah-celah batu yang sulit diakses. Hal ini membuat para peneliti sulit menentukan kapan ukiran ini dibuat.
Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa area ini sudah dihuni berkali-kali sejak 2,6 juta hingga 5.000 tahun lalu. Ukiran itu dibuat dengan gaya alami, bahkan menunjukkan detail seperti bulu dan ciri khas unta jantan, seperti "dulla" (organ di mulut yang digunakan untuk menarik perhatian unta betina).
Para peneliti menduga ukiran ini dibuat saat musim kawin unta, yang biasanya berlangsung antara November dan Maret. Pada saat itu, unta liar masih memiliki bulu musim dingin mereka.
Hingga kini, para arkeolog belum mengetahui alasan pasti mengapa tempat ini penting bagi orang-orang zaman dulu. Tidak ada sumber air yang jelas di sekitar area itu, sehingga mungkin lokasi ini hanya digunakan sebagai tempat singgah.
Penemuan di Sahout bukan satu-satunya. Pada 2018, ukiran unta serupa juga ditemukan di Al-Jouf, wilayah lain di Arab Saudi. Ukiran itu diperkirakan berusia 2.000 tahun.
Dengan penelitian lebih lanjut, para arkeolog berharap bisa mengungkap lebih banyak cerita dari masa lalu yang tersembunyi di balik ukiran-ukiran ini. (*)
Editor : Richard Lawongan