RADARPAPUA - Penelitian baru menunjukkan bahwa helm terkenal dari makam kapal Sutton Hoo di Inggris bisa jadi adalah bukti bahwa prajurit Anglo-Saxon pernah bekerja sebagai tentara bayaran untuk Kekaisaran Bizantium pada abad keenam.
Helen Gittos, sejarawan abad pertengahan dari Universitas Oxford, menjelaskan bahwa helm dan baju zirah rantai yang ditemukan di lokasi tersebut memiliki ciri khas yang mirip dengan baju besi Bizantium. Menurutnya, benda-benda ini mungkin dibuat oleh pengrajin Inggris sebagai salinan ornamen dari baju zirah yang dibawa pulang oleh seorang prajurit Anglo-Saxon setelah bertugas di wilayah timur jauh.
Meskipun kini baju zirah itu sudah berkarat, Gittos yakin desainnya terinspirasi dari baju zirah prajurit Bizantium. Helm Sutton Hoo, meski dihiasi emas dan permata, memiliki bagian pelindung pipi dan leher yang mirip dengan helm Romawi.
Dalam studinya yang diterbitkan di The English Historical Review, Gittos berpendapat bahwa beberapa benda dari makam Anglo-Saxon menunjukkan prajurit mereka mungkin pernah membantu Kekaisaran Bizantium melawan Persia Sasanian.
Peninggalan Anglo-Saxon Awal
Sutton Hoo ditemukan pada 1939 dan berisi makam kapal serta lebih dari selusin makam lain. Temuan ini lebih dipahami setelah penemuan makam "Pangeran Prittlewell" pada 2003 di Essex. Makam ini tidak dijarah, sehingga memberikan petunjuk baru.
Makam Prittlewell berisi benda-benda seperti kendi perunggu, sendok perak, dan mangkuk logam dari wilayah Mediterania Timur. Menurut Gittos, benda-benda ini kemungkinan bukan hasil perdagangan, tetapi dibawa pulang oleh prajurit Anglo-Saxon yang bertugas di wilayah tersebut.
Melawan Persia Sasanian
Pada tahun 570-an, Kekaisaran Bizantium memulai kampanye militer besar melawan Persia Sasanian. Saat itu, mereka merekrut tentara bayaran dari berbagai wilayah. Prajurit yang bergabung diberi baju zirah dan bayaran emas untuk membeli peralatan tambahan.
Di makam-makam Anglo-Saxon awal, ditemukan pula peralatan kuda yang rumit dan kerangka kuda, yang menunjukkan bahwa mereka adalah penunggang kuda handal dan sangat bernilai bagi Bizantium.
Ken Dark, seorang ahli sejarah dari King's College London, menyebut temuan ini menarik. Meski belum ada bukti langsung bahwa prajurit dari Inggris barat bertempur untuk Bizantium, kemampuan mereka sebagai pasukan di medan hutan memang tercatat dalam dokumen perang Bizantium abad keenam. (*)
Editor : Richard Lawongan