RADARPAPUA - Hukum "mata ganti mata, gigi ganti gigi" yang tertulis dalam Kitab Keluaran telah menjadi simbol keadilan selama ribuan tahun. Prinsip ini mencerminkan keseimbangan dalam menegakkan keadilan, terutama ketika menyangkut kerugian fisik. Namun, bagaimana hukum seperti ini bisa muncul? Apakah itu hanya hasil dari budaya tertentu, atau ada intuisi universal yang mendasarinya?
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Science Advances mencoba menjawab pertanyaan ini. Studi ini melibatkan 614 peserta dari Amerika Serikat dan India, serta menganalisis kode hukum dari berbagai era, termasuk hukum Æthelberht dari Inggris abad ke-7 dan Guta lag dari Swedia abad ke-13. Peneliti menemukan bahwa baik masyarakat awam maupun pembuat hukum cenderung memiliki pandangan serupa tentang nilai bagian tubuh, misalnya jari telunjuk dianggap lebih berharga daripada jari manis, dan mata lebih penting daripada telinga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai bagian tubuh terkait dengan fungsi dan dampaknya terhadap kelangsungan hidup. Kehilangan ibu jari, misalnya, dianggap lebih ringan dibandingkan kehilangan satu tangan. Selain itu, hukum kuno sering kali memberikan kompensasi lebih tinggi untuk cedera yang dapat menyebabkan cacat permanen, seperti tercatat dalam hukum Barbarian Eropa.
Namun, beberapa variasi tetap ada. Nilai bagian tubuh bisa berbeda tergantung lingkungan dan budaya. Sebagai contoh, penglihatan mungkin lebih dihargai oleh pemburu, sementara kekuatan fisik lebih penting di wilayah yang rawan kekerasan. Faktor ini menunjukkan adanya fleksibilitas dalam nilai-nilai intuitif manusia terhadap tubuh.
Penelitian ini mengungkap bahwa meskipun budaya dan hukum berbeda-beda, ada pola universal dalam cara manusia menghargai tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa keadilan, baik dalam moralitas maupun hukum, memiliki dasar yang serupa di berbagai tempat dan waktu.(aj)