RADARPAPUA – Setelah lebih dari delapan dekade menghilang, tahi lalat emas De Winton (Cryptochloris wintoni) akhirnya ditemukan kembali di Port Nolloth, pantai barat laut Afrika Selatan.
Spesies yang langka dan buta ini menjadi perhatian dunia karena kemampuannya "berenang" melalui pasir dan memiliki bulu berkilauan yang unik.
Penemuan ini menjadi terobosan besar dalam upaya konservasi hewan langka.
Para peneliti dari Endangered Wildlife Trust (EWT) dan Universitas Stellenbosch menggunakan teknologi DNA lingkungan (eDNA) untuk melacak spesies ini.
Metode ini menganalisis jejak DNA hewan yang tertinggal di tanah melalui ekskresi, sel kulit, atau rambut.
Lebih dari 100 sampel tanah dari berbagai lokasi dikumpulkan untuk diidentifikasi, dan hasilnya diterbitkan pada 24 November di jurnal Biodiversity and Conservation.
“Dengan metode eDNA, kami yakin bisa mendeteksi keberadaan tahi lalat emas De Winton jika masih ada di habitatnya,” kata Samantha Mynhardt, ahli genetika konservasi sekaligus penulis utama penelitian.
Di Port Nolloth, tim menemukan liang dan jejak baru akibat hujan lebat. Anjing pelacak terlatih yang digunakan untuk mendeteksi aroma tahi lalat emas umum, seperti Chrysochloris asiatica dan Eremitalpa granti, tidak merespons, memperkuat dugaan bahwa jejak tersebut milik De Winton.
Penelitian lebih lanjut, dengan membandingkan sampel DNA museum Cape Town, memastikan bahwa spesies keempat yang teridentifikasi adalah tahi lalat emas De Winton.
“Banyak yang ragu spesies ini masih hidup, tetapi kami yakin keberhasilannya terletak pada metode deteksi yang tepat, waktu, dan tim yang berdedikasi,” ujar Cobus Theron, manajer konservasi EWT. Hingga kini, empat populasi De Winton telah dikonfirmasi.
Penemuan ini menjadi bagian dari proyek Search for Lost Species yang digagas Re:wild. Diluncurkan pada 2017, proyek ini bertujuan menemukan kembali 25 spesies yang hilang dari ilmu pengetahuan selama lebih dari satu dekade.
Sejauh ini, 11 spesies telah ditemukan, termasuk echidna paruh panjang Attenborough, lebah raksasa Wallace, dan tanaman kendi beludru.
Keberhasilan ini tidak hanya memecahkan misteri keberadaan tahi lalat emas De Winton tetapi juga membuka jalan bagi eksplorasi konservasi spesies lain yang hilang atau terancam punah.
Penemuan ini menggarisbawahi pentingnya inovasi teknologi dalam melindungi keanekaragaman hayati global.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan