RADARPAPUA - Penelitian oleh tim internasional dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology berhasil mengungkap fakta mengejutkan dari dua situs pemakaman era Avar di Austria. Analisis genetika terhadap lebih dari 700 individu dari abad ke-8 M mengungkap bahwa komunitas di Leobersdorf sebagian besar memiliki asal-usul Asia Timur, sementara mereka di Mödling memiliki nenek moyang Eropa. Temuan ini mengungkap bagaimana dua kelompok berbeda secara genetik hidup berdampingan selama enam generasi tanpa konflik.
Menariknya, meskipun perbedaan genetik sangat mencolok, kedua komunitas ini memiliki budaya dan tradisi yang hampir identik. Artefak seperti gesper sabuk bergambar griffin, simbol status sosial, ditemukan di kedua situs. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengidentifikasi diri sebagai Avar, terlepas dari perbedaan asal-usul. "Integrasi budaya mereka sangat berhasil meskipun ada perbedaan genetik yang besar," jelas Walter Pohl, salah satu peneliti senior.
Studi ini juga menemukan bahwa meskipun komunitas-komunitas ini hidup terpisah, mereka memiliki pola sosial yang serupa dalam memilih pasangan dari komunitas lain. Sebagian besar ibu di Leobersdorf berasal dari komunitas Asia Timur, sedangkan di Mödling dari komunitas Eropa. Namun, tidak ditemukan hubungan biologis antara kedua kelompok ini. Bahkan, tak satu pun individu yang menunjukkan tanda-tanda pernikahan antarkerabat dekat.
Fakta bahwa kedua komunitas ini hidup dalam kedamaian membantah citra Avar sebagai bangsa penakluk yang keras. Kerangka dari kedua situs tidak menunjukkan bekas luka pertempuran, dan senjata hanya ditemukan sesekali di makam. Sebaliknya, kehidupan di Vienna Basin pada masa itu dianggap sebagai salah satu periode paling damai dalam sejarah kawasan tersebut.
Penelitian ini membuka jalan baru untuk memahami dinamika sosial dan budaya di masa lalu. Studi mendalam seperti ini mengungkap bagaimana identitas dan warisan budaya dapat melampaui batas genetik. Para Avar, dengan latar belakang genetik yang berbeda, mampu hidup bersama sebagai satu komunitas, berbagi budaya, tradisi, dan identitas yang sama.(aj)
Editor : Richard Lawongan