RADARPAPUA - Para ilmuwan berhasil mengungkap misteri makhluk purba bernama Crassigyrinus scoticus, yang hidup sekitar 330 juta tahun lalu.
Melalui teknologi CT scan dan visualisasi 3D, para peneliti dari University College London merekonstruksi wajah hewan ini, yang disebut-sebut sebagai predator rawa yang menyerupai buaya modern.
Penemuan ini terbilang istimewa, mengingat fosil-fosil C. scoticus yang ditemukan sebelumnya dalam kondisi hancur sehingga sulit dipelajari.
Namun, teknologi mutakhir memungkinkan para peneliti untuk menyusun ulang fragmen-fragmen fosil seperti menyelesaikan teka-teki 3D.
Menurut penelitian, C. scoticus adalah hewan air yang hidup di rawa-rawa batu bara, habitat yang kemudian menjadi penyimpanan batu bara di era modern.
Berbeda dengan kerabat tetrapoda lainnya yang berevolusi untuk hidup di darat, spesies ini tetap tinggal di air, mengandalkan gigi besar dan rahang kuatnya untuk berburu.
“Hewan ini memiliki panjang sekitar dua hingga tiga meter, ukuran yang cukup besar untuk zamannya,” ujar Laura Porro, dosen biologi di University College London sekaligus penulis utama studi tersebut.
“Dengan tubuh pipih dan anggota tubuh pendek, perilakunya mungkin menyerupai buaya modern yang bersembunyi di air untuk menyergap mangsanya.”
Fitur unik lainnya termasuk mata besar untuk melihat di air berlumpur dan sistem sensorik khusus yang mendeteksi getaran di air. Celah misterius di moncongnya juga menjadi bahan penelitian lebih lanjut.
Para ilmuwan menduga celah ini mungkin mengindikasikan adanya indera tambahan, seperti organ Jacobson untuk mendeteksi bahan kimia, atau organ rostral untuk menangkap medan listrik.
Rekonstruksi terbaru juga mengoreksi pandangan lama tentang tengkorak C. scoticus. Sebelumnya, tengkoraknya digambarkan tinggi seperti belut Moray. Namun, penelitian baru menunjukkan bentuknya lebih datar dan mirip buaya.
Penemuan ini membuka wawasan baru tentang kehidupan hewan purba di era Carboniferous dan bagaimana mereka berkembang di lingkungan berawa.
Langkah selanjutnya, tim peneliti berencana melakukan simulasi biomekanik untuk memahami lebih jauh kekuatan gigitan dan strategi berburu C. scoticus.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan