RADARPAPUA - Di Dorset, Inggris, ada tempat bernama Hutan Fosil yang usianya sudah 145 juta tahun. Lokasi ini berada di Jurassic Coast, pantai sepanjang 153 kilometer di Inggris selatan yang penuh dengan fosil dari zaman Jurassic (201–145 juta tahun lalu).
Hutan Fosil ini sangat unik karena pohon-pohon mati di sana diawetkan oleh mikroba kecil mirip ganggang. Setelah pohon-pohon itu mati, mikroba ini menempel di batang pohon, lalu menangkap partikel kalsium karbonat dari air. Partikel-partikel itu lama-kelamaan membentuk lapisan batu kapur hidup yang disebut thrombolites, yang masih bisa dilihat sampai sekarang.
Pohon-pohon ini tumbuh di akhir zaman Jurassic, ketika suhu Bumi turun dan permukaan laut menyusut. Saat itu, lahan baru terbentuk di pinggir pantai, memungkinkan tumbuhan seperti pohon konifer, pakis pohon, dan cycad tumbuh subur di tempat yang kini menjadi pesisir selatan Inggris.
Baca Juga: Penemuan Fosil Prasejarah Besar-Besaran: Mastodon 13.600 Tahun Hidup di Zaman Es!
Namun, bunga belum ada di masa itu, dan kemungkinan besar dinosaurus pernah hidup di hutan ini, menurut situs Geology of the Wessex Coast.
Hutan ini tidak bertahan lama karena permukaan laut kembali naik, menenggelamkan pohon-pohon di air asin. Berkat mikroba, akar dan batang pohon tidak membusuk. Setelah bertahun-tahun, batang pohon yang tersisa patah, meninggalkan gundukan batu yang disebut "algal burrs." Gundukan inilah yang sekarang menjadi Hutan Fosil.
Sayangnya, batang pohon utuh tidak ada lagi di Hutan Fosil karena banyak yang diambil oleh pengunjung pada zaman Victoria, menurut Jurassic Coast Trust.
Hutan Fosil ini berada di tebing yang menghadap Selat Inggris. Banyak sisa kayu di dalam gundukan tersebut berasal dari pohon purba jenis cemara yang disebut Protocupressinoxylon. Sisa-sisa ini masih tertanam di tanah purba, tulis Ian West, seorang ahli geologi, di situs Geology of the Wessex Coast.
Hutan Fosil ini menjadi jendela ke masa lalu, menunjukkan seperti apa lingkungan tempat dinosaurus hidup di akhir zaman Jurassic. (*)
Editor : Richard Lawongan