Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Jejak Peran Perempuan Zaman Besi: Kekuatan dan Warisan yang Tak Tergantikan

Prisilia Rumengan • Selasa, 28 Januari 2025 | 11:19 WIB
zaman besi
zaman besi

RADARPAPUA - Penelitian DNA terbaru dari Bournemouth University mengungkap jejak keberdayaan perempuan dalam masyarakat Celtic kuno di Inggris. Melalui analisis DNA mitokondria (diturunkan dari ibu) dan kromosom-Y (diturunkan dari ayah) pada sisa manusia dari pemakaman suku Durtriges di Dorset, ditemukan pola keturunan yang diwariskan melalui garis perempuan. Fakta ini mengindikasikan adanya praktik pernikahan matrilokal, di mana laki-laki bergabung dengan keluarga perempuan, yang menetap di lokasi yang sama selama beberapa generasi.

Praktik ini mendukung pewarisan kekayaan, tanah, dan status melalui garis perempuan. Meski tidak serta-merta menandakan masyarakat matriarkal, temuan ini menunjukkan bagaimana perempuan memainkan peran sentral dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Data ini juga memperkuat catatan sejarah tentang pemimpin perempuan tangguh seperti Boudica dan Cartimandua yang memimpin bangsa mereka di medan perang, sebuah fakta yang kerap diabaikan oleh narasi sejarah patriarkal.

Namun, penemuan ini bukan hanya soal masa lalu. Ini adalah pengingat bahwa prasangka terhadap peran perempuan dalam sejarah masih berakar kuat hingga kini. Misalnya, banyak argumen misoginis yang meremehkan kemampuan perempuan dalam perang hanya berdasarkan alasan biologis atau stereotip yang salah. Faktanya, sejarah dunia penuh dengan contoh perempuan yang memainkan peran penting sebagai prajurit, mulai dari prajurit Aztek hingga pasukan elit perempuan Dahomey di Afrika Barat.

Studi ini juga menegaskan bahwa identitas dan peran perempuan sebagai prajurit atau pemimpin lebih banyak ditentukan oleh kondisi budaya dibandingkan batasan genetik. Kontribusi perempuan di medan perang modern, seperti di Ukraina, Israel, dan militer AS, semakin mematahkan stereotip lama dan menegaskan kesetaraan yang telah diperjuangkan selama berabad-abad.

Mempelajari masa lalu di mana perempuan memiliki status dan kekuatan yang setara tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga penting untuk mengikis narasi misoginis yang masih sering digunakan untuk membenarkan kebijakan diskriminatif. Bukti sejarah dan data ilmiah seperti ini membantu menciptakan pemahaman yang lebih adil dan mendorong normalisasi kesetaraan gender.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#Celtic #studi dna #Perempuan #sejarah #PemimpinPerempuan #Kesetaraan Gender