RADARPAPUA – Sebuah tim ilmuwan berhasil menemukan ventilasi hidrotermal baru di Pusat Penyebaran Galápagos (GSC) dengan cara yang tak terduga, yaitu dengan mengikuti jejak kepiting galatheid, atau yang dikenal sebagai lobster jongkok.
Penemuan ini terjadi di perbatasan antara Lempeng Tektonik Cocos dan Nazca, sekitar 400 kilometer di utara Kepulauan Galápagos.
Tim ilmuwan, yang tergabung dalam ekspedisi Schmidt Ocean Institute, sebelumnya telah mendeteksi anomali kimia di kawasan ini sejak 2008.
Namun, kepastian lokasi ventilasi baru ini akhirnya terungkap ketika mereka memperhatikan populasi kepiting putih yang semakin padat di dasar laut.
Mengikuti keberadaan kepiting ini, mereka menemukan area ventilasi yang luas, mencapai lebih dari 9.000 meter persegi, yang kemudian dijuluki "Sendero del Cangrejo" atau "Jejak Kepiting."
Ventilasi hidrotermal adalah fenomena unik di mana air laut meresap ke dalam kerak bumi, dipanaskan oleh magma, dan kembali ke laut melalui celah-celah di dasar samudra.
Proses ini menghasilkan semburan air kaya mineral yang membentuk ekosistem laut dalam yang khas.
Dari sekitar 550 ventilasi hidrotermal yang diketahui di dunia, hanya setengahnya yang pernah dikonfirmasi secara visual.
Untuk menemukan ventilasi ini, tim peneliti pertama-tama mencari lensa air dengan kadar oksigen rendah, indikator utama aktivitas hidrotermal.
“Oksigen dalam air ini benar-benar hilang akibat sirkulasi di dasar laut, yang menandakan bahwa air yang muncul dari ventilasi juga tidak mengandung oksigen,” jelas Jill McDermott, ahli oseanografi dari Universitas Lehigh.
Setelah mendeteksi jejak kimia yang mengarah ke ventilasi baru, tim mengerahkan kendaraan bawah laut yang dioperasikan dari jarak jauh.
Kamera bawah laut menangkap pemandangan ekosistem unik yang berkembang di sekitar ventilasi, termasuk cacing tabung raksasa, kerang besar yang disebut "kerang piring makan," serta spesies laut lainnya yang beradaptasi dengan kondisi ekstrem di lingkungan hidrotermal.
Penemuan ini menarik perhatian ilmuwan kelautan, terutama karena keberadaan cacing tabung raksasa yang tidak ditemukan di lokasi lain yang telah diteliti dalam ekspedisi ini.
“Kami menduga bahwa ventilasi ini berada pada tahap perkembangan yang berbeda, yang bisa menjelaskan mengapa beberapa spesies hadir sementara yang lain tidak,” kata Roxanne Beinart dari University of Rhode Island.
Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk memahami bagaimana ekosistem ini berkembang seiring waktu.
Para ilmuwan berharap bahwa data yang dikumpulkan dari lokasi baru ini dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang ventilasi hidrotermal dan bagaimana kehidupan laut dalam beradaptasi dengan kondisi ekstrem.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan