Jejak Sejarah Domba: Dari Domestikasi hingga Migrasi Besar di Zaman Perunggu
Prisilia Rumengan• Jumat, 31 Januari 2025 | 14:13 WIB
Kapal yang ditopang oleh dua ekor domba jantan, 2600 hingga 2500 SM, nomor objek 1989.281.3.
RADARPAPUA - Domba telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia selama lebih dari 11.000 tahun. Selain sebagai sumber daging, domestikasi domba juga menyediakan susu kaya protein dan wol tahan air, yang menjadi bahan pakaian penting bagi manusia. Namun, perjalanan panjang spesies ini baru benar-benar terungkap setelah tim ilmuwan internasional menganalisis 118 genom dari fosil domba kuno yang ditemukan di berbagai wilayah, mulai dari Mongolia hingga Irlandia.
Penelitian ini mengonfirmasi bahwa domestikasi domba pertama kali terjadi di Aşıklı Höyük, Türkiye, sekitar 11.000 tahun yang lalu, melalui penangkapan mouflon liar di kawasan Fertile Crescent. Menariknya, sekitar 8.000 tahun lalu, peternak awal di Eropa mulai memilih domba berdasarkan warna bulu, sebagaimana terbukti dari gen "KIT" yang berkaitan dengan warna putih pada hewan ternak. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia telah lama berusaha membentuk karakteristik biologis hewan sesuai keinginan mereka.
Selain seleksi genetik, sejarah domestikasi domba juga ditandai dengan migrasi besar-besaran. Sekitar 7.000 tahun lalu, domba dari Timur Tengah menyebar ke arah barat mengikuti jalur perdagangan Mesopotamia. Kemudian, pada 5.000 tahun lalu, gelombang besar pastoralis Eurasia yang bermigrasi ke Eropa membawa serta kawanan domba mereka. Perpindahan ini tidak hanya mengubah komposisi genetika manusia Eropa, tetapi juga memperkenalkan bahasa Proto-Indo-Eropa yang menjadi cikal bakal bahasa-bahasa modern di benua tersebut.
Menurut penelitian, pergeseran populasi domba ini kemungkinan terkait dengan pemanfaatan susu dan keju, yang menjadi faktor penting dalam kelangsungan hidup masyarakat nomaden. Hingga Zaman Perunggu, kawanan domba di Eropa sudah memiliki campuran genetika dari populasi Eurasia. Sejarah panjang ini membuktikan bahwa hubungan antara manusia dan domba bukan sekadar tentang peternakan, tetapi juga tentang perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang membentuk peradaban dunia.(aj)