RADARPAPUA – Pohon baobab yang unik dan sering dijuluki "pohon kehidupan" ternyata pertama kali muncul di Madagaskar sekitar 41 juta tahun lalu.
Namun, bagaimana pohon ini bisa menyebar ke Afrika dan Australia masih menjadi misteri bagi para ilmuwan.
Baobab adalah pohon megah yang bisa tumbuh hingga 25 meter dan hidup ribuan tahun. Kemampuannya menyimpan air menjadikannya sumber kehidupan di daerah kering.
Selain itu, daunnya dapat digunakan sebagai makanan dan obat-obatan, menjadikannya tanaman yang sangat bernilai bagi ekosistem dan manusia.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature, para ilmuwan menganalisis genom delapan spesies baobab untuk memahami asal-usulnya.
Mereka menemukan bahwa baobab pertama kali berkembang di Madagaskar sebelum akhirnya menyebar.
Enam dari delapan spesies baobab saat ini hanya ditemukan di pulau tersebut, sementara satu spesies tumbuh di Afrika dan satu lagi di Australia.
Bagaimana baobab bisa sampai ke Afrika dan Australia masih menjadi perdebatan. Beberapa ilmuwan menduga biji baobab terbawa arus laut, sementara teori lain menyebutkan bahwa manusia mungkin berperan dalam penyebarannya.
Sayangnya, beberapa spesies baobab kini menghadapi ancaman serius. Kekeringan, perubahan iklim, dan aktivitas manusia menyebabkan tiga spesies masuk dalam kategori terancam punah atau sangat terancam punah.
Spesies yang lebih kuat seperti A. za dan A. madagascariensis bahkan mulai bersaing dengan spesies yang lebih rentan, mengancam kelangsungan hidup mereka.
Selain itu, perubahan geologi seperti aktivitas vulkanik dan kenaikan permukaan laut dalam satu juta tahun terakhir juga telah mempersempit habitat baobab.
Jika kondisi ini terus berlanjut, pohon kehidupan yang telah bertahan selama jutaan tahun ini bisa semakin sulit untuk bertahan di masa depan.
Baobab bukan sekadar pohon biasa, tetapi simbol ketahanan dan sumber kehidupan. Langkah-langkah konservasi perlu segera dilakukan agar pohon ikonik ini tetap lestari bagi generasi mendatang.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan