RADARPAPUA - Sepanjang kariernya sebagai arkeolog bawah air, David Gibbins telah menjelajahi puluhan bangkai kapal di berbagai belahan dunia.
Kini, dalam bukunya yang terbaru, A History of the World in Twelve Shipwrecks (2024), ia mengajak pembaca menyelami kisah peradaban manusia yang terhubung melalui kapal karam, dari Mesir kuno hingga era Viking.
Dalam wawancara bersama Live Science, Gibbins berbagi pengalaman serta pandangannya tentang bagaimana kapal karam menjadi saksi bisu penyebaran budaya, agama, dan perdagangan global.
Petualangan Seumur Hidup di Dunia Bawah Air
Ketertarikan Gibbins terhadap dunia bawah laut bermula sejak kecil pada 1960-an, ketika eksplorasi lautan menjadi salah satu batas petualangan manusia, sejajar dengan eksplorasi luar angkasa.
Ia kemudian mengejar karier sebagai arkeolog maritim, menggabungkan ilmu pengetahuan dan kecintaannya pada penyelaman.
"Saya ingin menulis buku yang tidak hanya ilmiah tetapi juga mudah dipahami oleh masyarakat luas. Dengan pengalaman saya menyelami berbagai situs dari Zaman Perunggu hingga abad ke-20, saya bisa memilih bangkai kapal yang paling mewakili sejarah dunia," ujar Gibbins.
Perbedaan Arkeologi Darat dan Bawah Air
Gibbins menjelaskan bahwa eksplorasi bangkai kapal berbeda dari penggalian arkeologi di darat.
Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan waktu akibat persediaan udara saat menyelam.
Jika di darat para arkeolog bisa menghabiskan hari-hari untuk meneliti situs, di bawah air mereka hanya memiliki waktu sekitar satu setengah jam per sesi.
Namun, ada keuntungan tersendiri dalam eksplorasi bawah air. "Banyak artefak yang lebih terawat di bawah air dibandingkan di darat.
Teknik penggalian menggunakan lift udara dan pengerukan memungkinkan kami mengungkap benda-benda yang tetap utuh selama berabad-abad," jelasnya.
Kapal Karam sebagai Potret Sejarah
Menurut Gibbins, bangkai kapal adalah kapsul waktu yang menawarkan gambaran unik tentang satu momen sejarah.
Tidak seperti situs darat yang sering kali berisi lapisan-lapisan aktivitas manusia selama berabad-abad, bangkai kapal merekam peristiwa secara lebih spesifik.
Salah satu contoh paling terkenal adalah kapal perang Mary Rose milik Raja Henry VIII yang tenggelam pada tahun 1545.
"Kapal ini karam begitu cepat hingga hampir seluruh isinya tetap terjaga, termasuk sisa-sisa awak kapal yang memberi wawasan tentang kehidupan pelaut Inggris pada masa itu," ujar Gibbins.
Jejak Perdagangan dan Peradaban Kuno
Bangkai kapal juga membantu mengungkap bagaimana masyarakat kuno saling berinteraksi.
Salah satu kapal yang dibahas Gibbins berasal dari abad ke-9 dan ditemukan di perairan Belitung, Indonesia.
Kapal ini membawa muatan tembikar Cina yang menunjukkan adanya jalur perdagangan yang menghubungkan dunia Islam awal dengan Cina dan Asia Tenggara.
Selain itu, Gibbins juga membahas kapal dagang yang berlayar pada masa pemerintahan Raja Tut dari Mesir.
Temuan artefak seperti kalung emas Ratu Nefertiti dalam kapal tersebut menunjukkan adanya hubungan perdagangan dan diplomasi antara Mesir dan Yunani Zaman Perunggu.
Misteri yang Masih Menunggu di Dasar Laut
Meskipun banyak bangkai kapal telah ditemukan di perairan dangkal, Gibbins meyakini bahwa masih banyak penemuan besar menunggu di laut dalam.
Laut Mediterania, misalnya, memiliki perairan yang sangat dalam, dan eksplorasi terhadap bangkai kapal di wilayah ini baru dimulai dalam skala besar.
"Saya percaya ada museum tersembunyi di dasar Mediterania yang berisi artefak berharga dari zaman Yunani dan Romawi yang belum tersentuh. Teknologi modern seperti kendaraan bawah laut tak berawak akan membantu kita mengungkap rahasia ini di masa depan," tambahnya.
Melalui buku barunya, Gibbins tidak hanya menceritakan kisah bangkai kapal, tetapi juga menyoroti bagaimana manusia sepanjang sejarah telah menggunakan lautan untuk menjelajahi, berdagang, dan berbagi budaya. Setiap kapal karam memiliki ceritanya sendiri, menjadi saksi bisu perubahan besar dalam sejarah dunia.(*)
Editor : Prisilia Rumengan