Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Wanita Temukan Jejak Dunia Kuno 280 Juta Tahun Lalu saat Mendaki di Pegunungan Italia

Richard Lawongan • Rabu, 5 Februari 2025 | 17:58 WIB

Rekonstruksi pemandangan danau 280 juta tahun yang lalu selama periode Permian.
Rekonstruksi pemandangan danau 280 juta tahun yang lalu selama periode Permian.

RADARPAPUA -
Seorang wanita yang sedang mendaki di Pegunungan Alpen Italia tanpa sengaja menemukan jejak kehidupan kuno berusia 280 juta tahun. Jejak ini berupa fosil tumbuhan, jejak kaki hewan, hingga bekas tetesan hujan, seperti yang dikonfirmasi para ilmuwan.

Claudia Steffensen, sang penemu, sedang berjalan di belakang suaminya di Taman Pegunungan Valtellina Orobie, Lombardy, pada tahun 2023. Saat itu, ia menginjak sebuah batu yang tampak seperti lempengan semen. "Saya melihat pola lingkaran aneh dengan garis-garis bergelombang," kata Steffensen. Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah jejak kaki hewan purba.

Para ilmuwan menganalisis batu itu dan menemukan bahwa jejak tersebut berasal dari reptil prasejarah. Temuan ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada jejak lain yang tersembunyi di ketinggian Pegunungan Alpen tersebut.

Sebuah batu besar dengan fosil jejak kaki amfibi dan reptil yang disejajarkan untuk membentuk jejak.
Sebuah batu besar dengan fosil jejak kaki amfibi dan reptil yang disejajarkan untuk membentuk jejak.

Penelitian lanjutan menemukan bukti keberadaan seluruh ekosistem dari zaman Permian, sekitar 299-252 juta tahun yang lalu. Pada masa itu, Bumi mengalami pemanasan yang cepat dan akhirnya menghadapi kepunahan besar-besaran, yang disebut "Great Dying," yang memusnahkan 90% spesies di Bumi.

Fosil yang ditemukan mencakup jejak kaki reptil, amfibi, serangga, dan hewan kecil lainnya, serta fosil tumbuhan seperti biji, daun, dan batang. Bahkan, ada bekas tetesan hujan dan gelombang air dari danau purba. Semua bukti ini ditemukan hingga ketinggian 3.000 meter di pegunungan, dan sebagian juga di lembah yang terkena longsoran batu selama jutaan tahun.

Menurut Ausonio Ronchi, seorang ahli paleontologi di Universitas Pavia, jejak kaki itu terbentuk ketika pasir dan lumpur basah mengering di tepi sungai dan danau, lalu dilapisi tanah liat baru yang melindungi jejak tersebut selama jutaan tahun. Tekstur halus pasir dan lumpur itu bahkan melestarikan detail kecil seperti bekas cakar dan pola tubuh hewan purba.

Para peneliti memindahkan fosil ke bahan putih kenyal untuk diangkut pada 21 Oktober 2024.
Para peneliti memindahkan fosil ke bahan putih kenyal untuk diangkut pada 21 Oktober 2024.

Para ilmuwan menemukan jejak ini berasal dari setidaknya lima jenis hewan, beberapa di antaranya mungkin sebesar komodo modern dengan panjang 2-3 meter. Menariknya, pada masa itu, dinosaurus belum ada. "Namun, hewan yang meninggalkan jejak terbesar ini tetap berukuran besar," kata Cristiano Dal Sasso, ahli paleontologi dari Museum Sejarah Alam Milan.

Penemuan ini tidak hanya memberikan gambaran tentang dunia kuno yang sudah punah, tetapi juga memberikan pelajaran bagi masa kini. Banyak fosil ini terungkap karena mencairnya es di Pegunungan Alpen akibat perubahan iklim. "Fosil-fosil ini menunjukkan bagaimana pemanasan global di masa lalu mirip dengan apa yang kita alami sekarang," kata para peneliti. Mereka menegaskan, masa lalu punya banyak hal untuk mengajarkan kita tentang risiko yang dihadapi Bumi saat ini. (*)

Editor : Richard Lawongan
#mendaki #pegunungan #temuan #wanita #jejak kuno #Italia