Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Midas dan Sentuhan Emas: Anugerah atau Kutukan?

Via Ponamon • Sabtu, 8 Februari 2025 | 12:00 WIB
Ilustrasi (freepik.com)
Ilustrasi (freepik.com)

 

 

RADARPAPUA - Midas adalah penguasa Pessinus, sebuah kota di wilayah kuno Frigia. Dalam mitologi Yunani, ia dikenal karena kemampuannya yang luar biasa—mengubah segala sesuatu yang disentuhnya menjadi emas. Kekuatan ini kemudian menjadi simbol kekayaan dan kemakmuran.

Midas memiliki wilayah yang luas, serta istana yang megah dan menawan, lengkap dengan taman bunga mawar yang indah.

Suatu hari, di taman tersebut, Dionysus, dewa anggur, menemukan Silenus—teman baik guru sekaligus dan ayah angkatnya—sedang mabuk. Silenus merupakan satir tertua yang dikenal sebagai dewa hutan, kemabukan, dan pembuatan anggur dalam mitologi Yunani.

Dionysus membawa sahabatnya itu ke istana Midas, di mana sang raja menyambutnya dengan baik.

Awalnya, Silenus hanya bermaksud singgah sebentar, namun akhirnya ia tinggal selama seminggu penuh, menghibur Midas dan para tamu istana dengan pemandangan serta kisah-kisahnya.

Sebagai ungkapan terima kasih atas kasih sayang dan kebaikan Midas, Dionysus menawarkan untuk mengabulkan satu permintaan raja.

Midas pun meminta agar segala sesuatu yang disentuhnya berubah menjadi emas, oleh karena itu, tidak ada yang lebih berharga di dunia selain emas. Meskipun telah memiliki banyak emas, ia tidak dapat menerima kenyataan bahwa orang lain juga memilikinya.

Keinginannya pun dikabulkan. Namun tanpa disadari, hal yang dianggapnya sebagai anugerah ternyata merupakan sebuah kutukan.


Editor : Via Ponamon
#Raja Midas #kutukan #mitologi yunani