RADARPAPUA - Seekor hiu besar di dekat Bermuda dimakan oleh hiu yang lebih besar lagi. Bahkan, alat pelacak yang dipasang di hiu itu juga ikut tertelan. Ini adalah kasus pertama yang pernah tercatat, kata para ilmuwan.
Hiu jenis porbeagle (Lamna nasus) biasanya tumbuh hingga sepanjang 3,6 meter. Hiu besar ini hidup di Samudra Atlantik Utara dan bagian lain dari samudra di belahan selatan, termasuk dekat Antartika. Mereka memiliki tubuh berotot, gigi runcing seperti tombak, dan merupakan predator yang kuat. Tapi ternyata, hiu porbeagle juga bisa menjadi mangsa.
Dalam penelitian yang diterbitkan pada 3 September di jurnal Frontiers in Marine Science, ilmuwan menjelaskan bagaimana seekor hiu porbeagle dimakan oleh hiu yang lebih besar. "Ini adalah pertama kalinya peristiwa seperti ini tercatat di dunia," kata Brooke Anderson, penulis utama studi dan ahli biologi perikanan laut.
Hiu betina yang sedang hamil ini diberi alat pelacak pada Oktober 2020 di dekat Cape Cod, AS. Alat pelacak ini bertujuan untuk memantau pergerakan hiu dan kedalaman laut yang dijelajahinya. Awalnya, hiu berenang di permukaan hingga kedalaman 100 meter. Namun, pada Desember 2020, hiu mulai menyelam lebih dalam, hingga 800 meter di siang hari dan sekitar 200 meter di malam hari.
Semua berjalan normal sampai Maret 2021, ketika suhu yang tercatat oleh alat pelacak tiba-tiba berubah. Biasanya, suhu air di kedalaman tertentu lebih dingin. Tapi saat itu, alat pelacak mencatat suhu lebih hangat, meskipun hiu tetap berada di kedalaman yang sama.
Para peneliti menyimpulkan bahwa alat pelacak berada di dalam perut hiu lain. Hiu besar yang mungkin memakan porbeagle ini adalah hiu putih (Carcharodon carcharias) atau hiu mako (Isurus oxyrhinchus). Tapi, kemungkinan besar hiu putih, karena pola pergerakannya lebih stabil dibandingkan hiu mako.
Penemuan ini menunjukkan bahwa hiu porbeagle, yang sudah terancam akibat penangkapan ikan berlebihan, masih menghadapi ancaman lain. "Kami sering menganggap hiu besar sebagai predator utama," kata Anderson. "Tapi teknologi baru menunjukkan bahwa interaksi antara predator besar bisa lebih rumit dari yang kita duga." (*)
Editor : Richard Lawongan