RADARPAPUA - Periode Jōmon merupakan bagian penting dari sejarah Jepang yang mencerminkan evolusi gaya hidup masyarakatnya dari pemburu-pengumpul menjadi komunitas yang lebih menetap.
Nama “Jōmon” sendiri merujuk pada pola tali yang khas pada tembikar mereka. Periode ini berlangsung selama ribuan tahun, mengalami berbagai perubahan budaya, teknologi, dan lingkungan yang membentuk fondasi kehidupan masyarakat Jepang kuno.
Orang-orang Jōmon tinggal di rumah-rumah lubang yang tersebar mengelilingi ruang terbuka di tengah pemukiman mereka.
Mereka bertahan hidup dengan berburu hewan, menangkap ikan, dan mengumpulkan tanaman liar.
Tembikar menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari mereka, dibuat tanpa roda dengan tangan, lalu dibakar dalam api terbuka.
Seiring waktu, masyarakat Jōmon mengalami perubahan signifikan. Awalnya, mereka tinggal dalam kelompok kecil dan berpindah-pindah, tetapi seiring peningkatan populasi dan teknologi, mereka mulai menetap lebih lama di satu tempat.
Bukti arkeologis menunjukkan adanya perdagangan dengan Korea, perkembangan teknik berburu dan menangkap ikan, serta munculnya ritual yang lebih kompleks, termasuk pembuatan patung dan situs upacara batu.
Pada puncaknya, sekitar 2500-1500 SM, populasi Jōmon meningkat pesat. Mereka mulai mengembangkan sistem pertanian sederhana, meskipun masih mengandalkan sumber daya alam.
Namun, saat iklim mulai mendingin sekitar 1000 SM, jumlah penduduk menyusut dan mereka kembali berpindah ke daerah pesisir untuk bertahan hidup dengan hasil laut.
Pada periode akhir Jōmon, terjadi perubahan besar dengan diperkenalkannya pertanian padi, yang menandai peralihan menuju budaya Yayoi, awal dari peradaban Jepang yang lebih maju.(*)
Editor : Prisilia Rumengan