Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Seni Kuningan Edo dan Pengaruhnya dalam Sejarah Kekuasaan Kerajaan Benin

Prisilia Rumengan • Jumat, 14 Februari 2025 | 12:06 WIB

Plakat: Prajurit dan Petugas  (Credit : Mr. and Mrs. Klaus G. Perls, 1990)
Plakat: Prajurit dan Petugas (Credit : Mr. and Mrs. Klaus G. Perls, 1990)

RADARPAPUA - Pada abad ke-16 dan 17, seniman Edo menciptakan serangkaian plakat kuningan yang menghiasi istana kerajaan di Kota Benin, Nigeria.

Plakat ini menggambarkan hierarki sosial dan peran para prajurit serta pengawal dalam struktur kerajaan.

Salah satu plakat yang terkenal menampilkan kepala prajurit di tengah, dikelilingi oleh prajurit berpangkat lebih rendah yang membawa simbol status, seperti kipas, terompet, dan kotak persembahan kacang kola untuk oba (raja).

Detail seperti skarifikasi macan tutul dan perhiasan mewah memperkuat simbolisme kekuasaan dan keberanian.

Plakat-plakat ini mengikuti konvensi "proporsi hirarkis," di mana figur terbesar menunjukkan otoritas tertinggi.

Plakat tidak hanya berfungsi sebagai hiasan istana tetapi juga sebagai catatan sejarah dan simbol etiket kerajaan.

Ketika Inggris menyerbu Benin pada tahun 1897, istana dijarah, dan banyak plakat kuningan dibawa ke museum serta koleksi pribadi di Eropa dan Amerika.

Penjarahan ini memutus hubungan artefak dengan komunitas aslinya, mengubahnya menjadi objek studi etnografi di Barat.

Kerajaan Benin memiliki sejarah panjang dalam diplomasi dan perdagangan dengan bangsa Eropa.

Pada abad ke-15, Oba Ewuare memperkuat wilayahnya dengan tembok besar dan membangun tentara yang kuat.

Hubungan dagang dengan Portugis membawa masuk logam kuningan yang diubah menjadi karya seni istana.

Namun, pada abad ke-18, ketegangan internal dan persaingan regional memicu ketergantungan pada perdagangan senjata, melemahkan stabilitas kerajaan.

Saat Inggris menginvasi pada 1897, Oba Ovonramwen diasingkan, dan ratusan artefak Benin dijual ke pasar seni internasional.

Setelah kematian Ovonramwen, putranya Eweka II mencoba menghidupkan kembali seni istana. Plakat Benin yang tersebar luas mulai menarik perhatian intelektual Afrika-Amerika, seperti W.E.B. Du Bois dan Alain Locke, yang melihatnya sebagai bukti kejayaan seni Afrika.

Pada abad ke-20, beberapa artefak Benin dikembalikan ke Nigeria, termasuk koleksi yang dipamerkan di Museum Nasional Lagos dan Kota Benin.

Kini, Oba Ewuare II berupaya membangun museum baru untuk melestarikan warisan ini di Kota Benin.

Museum ini diharapkan menjadi pusat pemahaman dan refleksi tentang sejarah serta nilai seni istana Benin, memperkuat kembali hubungan antara artefak dan warisan budayanya.(*)

Editor : Prisilia Rumengan
#plakat #benin #sejarah #Seni Kuningan Edo #kerajaan