RADARPAPUA - Penelitian terbaru mengungkap bahwa mumi Mesir kuno memiliki aroma khas: kayu, rempah, dan manis. Studi ini merupakan yang pertama menggabungkan teknik ilmiah dan sensorik untuk menganalisis bau tubuh yang telah diawetkan selama ribuan tahun.
Para ilmuwan menggunakan spektrometri massa dan panel "pengendus" terlatih untuk mengidentifikasi senyawa aroma. Hasilnya menunjukkan bahan seperti resin pinus, cedar, mur, dan kemenyan, yang digunakan dalam proses pembalseman.
Aroma ini bukan hanya bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga mencerminkan status sosial orang yang diawetkan. Mumi dengan bau harum dianggap lebih dekat dengan dewa, sementara bau busuk diasosiasikan dengan pembusukan dan kehancuran.
Temuan ini membantu konservator memahami lebih dalam teknik mumifikasi dan merencanakan pelestarian dengan lebih baik. Selain itu, metode ini dapat melindungi artefak dan konservator dari paparan zat kimia berbahaya yang digunakan dalam pengawetan museum.
Di masa depan, para peneliti berencana merekonstruksi kembali aroma mumi untuk pameran interaktif. Ini akan memberikan pengalaman baru bagi pengunjung museum, menghidupkan kembali warisan Mesir kuno melalui penciuman.
Dengan penelitian ini, kita semakin memahami praktik mumifikasi yang terus berevolusi. Bau yang masih tercium hingga kini menjadi bukti kecanggihan teknik pengawetan orang Mesir kuno yang telah bertahan lebih dari 5.000 tahun.(aj)
Editor : Richard Lawongan