RADARPAPUA - Para ilmuwan menggunakan alat bernama "paleothermometer" untuk mengetahui suhu di kawah Chicxulub, yang terbentuk setelah asteroid besar menghantam Bumi 66 juta tahun lalu.
Dari penelitian itu, diketahui bahwa bebatuan di dalam kawah ini pernah mencapai suhu 330 derajat Celsius, atau setara dengan 625 derajat Fahrenheit. Hasil ini ditemukan dengan mempelajari batuan dari dalam kawah tersebut, yang tercatat dalam jurnal PNAS Nexus pada 11 Januari.
Asteroid yang menciptakan kawah Chicxulub berukuran 12 kilometer dan bergerak dengan kecepatan 43.000 km/jam saat menghantam Bumi. Tabrakan ini menciptakan kawah raksasa selebar 200 kilometer di wilayah yang kini dikenal sebagai Teluk Meksiko. Setelah benturan, gelombang tsunami besar mengisi kawah dengan sedimen hanya dalam hitungan menit hingga jam.
Para peneliti menggunakan metode khusus untuk mengukur suhu purba, yakni "carbonate clumped-isotope thermometry." Metode ini menganalisis isotop tertentu di mineral karbonat pada batuan. Meskipun suhu awal akibat benturan asteroid bisa mencapai ribuan derajat Celsius, para ilmuwan hanya dapat mengukur suhu pada batuan yang tersisa setelah benturan.
Batuan yang diambil dari kedalaman 700 meter di bawah dasar laut menunjukkan suhu tertinggi, yaitu 330 derajat Celsius. Suhu ini jauh lebih panas dibanding suhu lautan pada zaman Kapur Akhir (sekitar 35,5 derajat Celsius). Hal ini menunjukkan ada proses lain yang terjadi selain aktivitas panas dari bawah tanah.
Proses itu kemungkinan adalah reaksi kimia di mana karbon dioksida (CO2) dari batuan yang menguap langsung bereaksi dengan kalsium, membentuk mineral baru. Ini berarti, jumlah karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer setelah asteroid menghantam mungkin lebih sedikit dari yang sebelumnya diperkirakan.
Jika benar, ini bisa mengurangi efek pemanasan global dan pengasaman lautan pada masa itu. Namun, para ilmuwan masih memperdebatkan bagaimana iklim sebenarnya berubah setelah peristiwa ini, yang menyebabkan kepunahan 75% spesies, termasuk dinosaurus.
Penelitian ini tidak hanya membantu memahami dampak asteroid Chicxulub, tetapi juga bisa digunakan untuk mempelajari kawah-kawah lain di dunia akibat tabrakan asteroid. "Asteroid telah memberi pengaruh besar pada evolusi kehidupan di Bumi. Jadi, memahami bagaimana proses ini bekerja sangat penting bagi kita," kata Pim Kaskes, pemimpin penelitian. (*)
Editor : Richard Lawongan