RADARPAPUA - Wadahl berpenutup yang berasal dari abad ke-19 ini merupakan salah satu karya seni ukir kayu paling mengagumkan dari masyarakat Nguni di Afrika Selatan.
Dibuat dari satu balok kayu dengan penutup terpisah, wadah ini memiliki desain unik dengan struktur alas berkaki empat yang tampak mengapung.
Ornamen garis-garis yang memenuhi permukaannya diyakini mencerminkan pola kain tenun tradisional, memperkaya estetika karya ini.
Para pengrajin Nguni dikenal akan keterampilan luar biasa mereka dalam mengukir kayu, yang banyak diminati oleh bangsawan lokal dan juga orang Eropa di era kolonial.
Salah satu seniman terkenal, Unobadula, diduga sebagai pemahat dari beberapa karya serupa yang dipamerkan di Pameran Internasional London tahun 1862.
Meskipun fungsinya masih diperdebatkan, beberapa sumber menyatakan bahwa kapal ini digunakan untuk menyimpan bir tradisional, susu, atau bahkan sebagai wadah tembakau dalam acara seremonial kerajaan Zulu.
Saat ini, hanya sekitar dua belas kapal berpenutup seperti ini yang diketahui keberadaannya di berbagai museum dunia, termasuk British Museum, Musée Quai Branly di Paris, dan Museum Seni Cleveland.
Meski demikian, analisis terhadap wadah ini tidak menemukan jejak penggunaan yang jelas, menimbulkan spekulasi bahwa benda ini lebih berfungsi sebagai simbol prestise daripada wadah fungsional.
Keberadaan wadah berpenutup ini menjadi bukti kejayaan seni pahat kayu masyarakat Nguni dan mencerminkan interaksi budaya antara Afrika Selatan dan dunia internasional di abad ke-19.
Warisan seni ini tetap menjadi kebanggaan dan daya tarik bagi para kolektor serta peneliti seni Afrika.(*)
Editor : Prisilia Rumengan