RADARPAPUA – Patung pasangan dari Madagaskar ini merupakan salah satu pencapaian seni paling menonjol di wilayah tempat budaya Afrika dan Kepulauan Pasifik bertemu.
Dibuat oleh seniman Sakalava pada abad ke-17 hingga akhir abad ke-18, karya ini memiliki nilai budaya yang mendalam sebagai bagian dari monumen kayu tinggi yang disebut hazomanga.
Monumen ini ditempatkan di dekat rumah tetua suku dan berfungsi sebagai pusat doa, pengorbanan, serta upacara khitanan anak laki-laki.
Dengan tinggi sekitar enam kaki, hazomanga menjadi elemen arsitektur yang menonjol, melambangkan kekeluargaan lintas generasi.
Patung pria dan wanita yang diletakkan berdampingan ini menarik perhatian dengan ekspresi intens dan mata tersembunyi.
Sentuhan artistik pada bentuk dan stilisasi patung memberikan kesan keseimbangan antara pria dan wanita, mencerminkan pentingnya kemitraan dalam membangun masyarakat.
Ketelanjangan figur-figur ini memiliki makna mendalam di lingkungan budaya di mana tekstil menjadi simbol identitas.
Dalam konteks ritual, hal ini menegaskan tema kesuburan dan regenerasi yang universal. Sebagai pusat dalam upacara sunat, patung-patung ini menegaskan peran fundamental pria dan wanita dalam menjamin kelangsungan hidup komunitas Sakalava.
Selain nilai budaya dan spiritualnya, patung ini juga memiliki dampak besar dalam dunia seni. Pada awal abad ke-20, karya ini dikenal di Paris dan menjadi bagian dari koleksi pematung Inggris terkenal, Sir Jacob Epstein, sekitar tahun 1922-1923.
Bahkan, keindahan dan keseimbangan simetrisnya turut memengaruhi seni modern Barat, sebagaimana ditampilkan dalam berbagai pameran, termasuk di Museum Seni Modern New York pada tahun 1984 dan Forte di Belvedere, Italia, pada tahun 1989.(*)
Editor : Prisilia Rumengan