RADARPAPUA - Sebuah penemuan arkeologi di Yerusalem mengguncang pemahaman sejarah tentang asketisme di era Bizantium. Para ilmuwan menemukan jasad perempuan dalam pemakaman asketis yang sebelumnya hanya dikaitkan dengan laki-laki.
Penggalian di situs Khirbat el-Masani mengungkap makam seorang individu yang dibungkus rantai. Praktik ini melambangkan pengorbanan tubuh dan pelepasan duniawi. Awalnya diasumsikan pria, tetapi kondisi tulang yang buruk menghambat identifikasi pasti.
Untuk menentukan jenis kelamin, peneliti menggunakan proteomik enamel gigi, teknik inovatif yang menganalisis protein amelogenin. Hasilnya menunjukkan tidak adanya varian AmelY, mengonfirmasi bahwa individu ini adalah perempuan.
Penemuan ini menantang keyakinan bahwa asketisme ekstrem hanya dilakukan oleh pria. Sebelumnya, sejarah mencatat perempuan seperti Melania the Younger yang menjalani gaya hidup asketis, tetapi tidak ada bukti arkeologis mengenai praktik penyiksaan diri serupa.
Biara tempat makam ini ditemukan berada di jalur ziarah Kristen menuju Yerusalem. Peran perempuan dalam komunitas religius mungkin lebih aktif dan ketat daripada yang diperkirakan. Ini mengubah cara pandang terhadap spiritualitas perempuan di Bizantium.
Selain memperjelas keterlibatan perempuan dalam gerakan monastik, temuan ini juga menunjukkan peran teknologi dalam menafsirkan sejarah. Proteomik enamel gigi membuka peluang baru dalam studi arkeologi.
Para peneliti menekankan pentingnya eksplorasi lebih lanjut dengan metode ini. Ini mungkin awal dari pemahaman baru tentang asketisme perempuan di dunia Bizantium.(aj)
Editor : Richard Lawongan