Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Patung Niō Bukan Sekadar Penjaga Kuil tetapi Juga Simbol Harapan dan Perlindungan di Jepang

Prisilia Rumengan • Jumat, 28 Februari 2025 | 18:23 WIB

Temple Guardian (Nio, salah satu dari pasangan) (credit: www.metmuseum.org)
Temple Guardian (Nio, salah satu dari pasangan) (credit: www.metmuseum.org)

RADARPAPUA - Patung Niō, yang banyak terlihat di gerbang kuil-kuil Jepang, dikenal sebagai shūkongōshin, dewa penjaga yang melindungi agama Buddha.

Patung ini juga sering disebut kongō rikishi dan memiliki sejarah panjang dalam budaya serta kepercayaan masyarakat Jepang.

Awalnya, Niō merupakan satu dewa yang melindungi Buddha Shakyamuni. Namun, seiring waktu, dewa ini terpecah menjadi dua sosok, yaitu Agyō dengan mulut terbuka dan Ungyō dengan mulut tertutup.

Keduanya berdiri di sisi gerbang kuil sebagai penjaga. Bunyi “a” pada Agyō melambangkan awal, sementara “un” pada Ungyō melambangkan akhir, menjadikan mereka simbol dari permulaan dan akhir segala sesuatu.

Ciri khas patung Niō adalah tubuh berotot dengan ekspresi wajah yang garang, menunjukkan kekuatan dan kewaspadaan.

Mereka memegang senjata kuno vajra yang dipercaya mampu mengendalikan petir. Dengan hanya mengenakan rok panjang tradisional mo, patung ini memperlihatkan fisik yang kokoh, simbol perlindungan dan kekuatan.

Patung Niō pertama kali dibuat pada zaman Heian (794-1185) dan mencapai puncak popularitas di zaman Kamakura (1185-1333).

Menurut sejarawan Jepang Ichisaka Tarō, dalam bukunya "Niō" (2009), citra kuat patung ini sangat sesuai dengan selera klan samurai dan menjadi favorit masyarakat yang mencari perlindungan di masa perang.

Seiring waktu, Niō menjadi lebih dekat dengan masyarakat umum. Pada zaman Edo (1603-1868), patung ini dipercaya membawa kesehatan yang baik dan kekuatan fisik.

Di Gerbang Niōmon di Prefektur Shiga, terdapat sandal jerami raksasa sepanjang tiga meter sebagai persembahan kepada Niō, yang dipercaya memberikan kekuatan kaki bagi mereka yang menyentuhnya.

Selain itu, tradisi matakuguri, di mana anak-anak melewati kaki patung Niō untuk meringankan gejala campak, masih dilakukan hingga saat ini.

Meski memiliki penampilan garang, cerita rakyat menunjukkan bahwa Niō adalah sosok yang dekat dan disayangi masyarakat.

Ada kisah tentang Niō yang membantu dalam pekerjaan pertanian dan cerita lucu tentang seorang wanita tua yang membuat Niō lari karena salah paham.

Bagi masyarakat Jepang, patung Niō bukan hanya simbol perlindungan spiritual tetapi juga bagian dari tradisi yang menghadirkan rasa hangat dan kedekatan.

Kekuatan, perlindungan, dan kisah unik yang menyertainya membuat patung ini tetap dihormati dan dicintai hingga kini.(*)

Editor : Prisilia Rumengan
#Jepang #masyarakat #kuil #tradisi #simbol #patung #penjaga