RADARPAPUA - Para arkeolog menemukan bahwa batu penggiling dari budaya Neolitikum awal di Eropa memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan perempuan. Studi ini dilakukan pada tiga situs ritual di Jerman, yang berasal dari budaya Linear Pottery sekitar 4900-4650 SM.
Situs yang diteliti berada di Goseck dan Sömmerda, wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat ritual tertua di Eropa. Para peneliti meneliti 14 set alat penggiling untuk memahami nilai simbolisnya dalam kehidupan masyarakat saat itu.
Beberapa batu ditemukan masih baru, sementara yang lain sudah usang atau berada di tengah masa pemakaian. Alat-alat ini diletakkan secara berpasangan, menghadap timur ke barat, menunjukkan keterkaitan dengan siklus kehidupan manusia.
Studi ini menyimpulkan bahwa batu penggiling mencerminkan konsep waktu—dari produksi, penggunaan, hingga pemakaman—yang terkait dengan kelahiran, kehidupan, dan kematian. Ini menegaskan peran perempuan dalam menjaga tradisi agraris Neolitikum.
Selain itu, penggunaan dan pemakaman alat-alat ini mencerminkan pola hidup masyarakat Neolitikum yang berpindah setiap beberapa generasi. Hal ini menunjukkan bahwa waktu bukan hanya terkait panen tahunan, tetapi juga regenerasi komunitas.
Temuan ini juga sejalan dengan praktik serupa di Prancis dan Belgia, di mana batu penggiling memiliki nilai lebih dari sekadar alat rumah tangga. Batu-batu ini menjadi simbol hubungan perempuan dengan alat kerja mereka sepanjang hidup.
Studi ini membuka perspektif baru tentang bagaimana masyarakat awal memahami waktu dan kehidupan. Lebih dari sekadar benda, batu penggiling Neolitikum menjadi saksi sejarah peran perempuan dalam masyarakat agraris kuno.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan