Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Fosil Langka Kalajengking Purba Ditemukan di China, Spesies Kunci Zaman Kapur

Via Ponamon • Jumat, 7 Maret 2025 | 11:08 WIB

Jeholia longchengi berukuran sekitar 4 inci (10 cm) dan merupakan spesies kunci dalam rantai makanan ekosistem Cretaceous. (Kredit gambar: NIGPAS)
Jeholia longchengi berukuran sekitar 4 inci (10 cm) dan merupakan spesies kunci dalam rantai makanan ekosistem Cretaceous. (Kredit gambar: NIGPAS)

 

RADARPAPUA - Para ilmuwan menemukan fosil kalajengking purba yang sangat langka di Jehol Biota, China.

Mereka menduga bahwa kalajengking ini merupakan spesies kunci dalam ekosistem Cretaceous.

Sebuah koleksi fosil dari Zaman Kapur Awal telah mengungkap spesies kalajengking baru yang hidup sekitar 125 juta tahun lalu.

Kalajengking ini memiliki ukuran lebih besar dibandingkan banyak spesies kalajengking purba maupun modern.

Para peneliti meyakini bahwa spesies ini menempati posisi penting dalam rantai makanan, memangsa berbagai hewan seperti laba-laba, kadal, dan mamalia kecil.

Penemuan ini menjadi fosil kalajengking darat keempat di Tiongkok sekaligus fosil kalajengking era Mesozoikum pertama yang ditemukan di negara tersebut.

Hal ini dilaporkan dalam jurnal Science Bulletin pada 24 Januari.

Sebagian besar kalajengking dari era Mesozoikum (252 juta hingga 66 juta tahun lalu) biasanya terawetkan dalam amber.

Kalajengking yang menjadi fosil lebih jarang ditemukan karena mereka cenderung hidup di bawah batu dan cabang pohon, sehingga lebih sulit terperangkap dalam sedimen untuk menjadi fosil.

"Kalajengking Mesozoikum lainnya jauh lebih kecil, kebanyakan berukuran kurang dari setengah [ukuran] spesies baru," ujar Diying Huang, seorang peneliti dari Institut Geologi dan Paleontologi Nanjing di Tiongkok, kepada Live Science melalui email.

Fosil ini ditemukan di Formasi Yixian, yang dikenal sebagai lokasi berbagai fosil dari Zaman Kapur Awal di timur laut Tiongkok.

Spesies ini diberi nama Jeholia longchengi, diambil dari Biota Jehol yang berkembang sekitar 133 juta hingga 120 juta tahun yang lalu, serta distrik Longcheng di Chaoyang, tempat ditemukannya fosil tersebut.

Ukuran J. longchengi mencapai sekitar 10 sentimeter, menjadikannya sebagai salah satu spesies terbesar pada masanya.

Spesies ini memiliki tubuh berbentuk pentagonal dan spirakel bundar—lubang di tubuh yang memungkinkan pernapasan—mirip dengan beberapa famili kalajengking modern yang tersebar di berbagai wilayah Asia.

Namun, berbeda dari famili tersebut, J. longchengi memiliki kaki yang lebih panjang serta pedipalpus ramping atau capit tanpa taji di bagian patela.

Jehol Biota telah menghasilkan banyak penemuan fosil lainnya, termasuk dinosaurus, burung, mamalia, dan serangga, yang menunjukkan ekosistem dengan rantai makanan yang kompleks.

Para ilmuwan berhipotesis bahwa J. longchengi bisa saja menjadi mangsa bagi mamalia dan dinosaurus yang lebih besar, sementara makanannya mungkin terdiri dari serangga, laba-laba, katak, kadal, atau mamalia kecil.

Namun, karena bagian mulut fosil ini tidak terawetkan, para ilmuwan masih belum bisa memastikan pola makannya.

Mereka berharap penemuan fosil tambahan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai perannya dalam ekosistem purba.

"Jika ditempatkan di lingkungan saat ini, ia mungkin menjadi predator alami bagi banyak hewan kecil, dan bahkan dapat memburu anak-anak vertebrata kecil," ujar Huang kepada kantor berita Xinhua.

Saat ini, fosil tersebut disimpan di Museum Lembah Fosil di Chaoyang, China.

 

Sumber : livescience.com

Editor : Via Ponamon
#Mesozoikum #Fosil Kalajengking #Jehol Biota #ilmuwan china #Zaman kapur