RADARPAPUA - Ekspedisi musim panas tahun 1986 menjadi momen bersejarah dalam upaya mendokumentasikan kapal Titanic yang karam di dasar laut.
Dalam serangkaian penyelaman luar biasa, tim ekspedisi berhasil mengambil 3.000 gambar yang kemudian disusun menjadi mosaik foto lengkap kapal, sebuah prestasi besar yang dikerjakan bersama tim grafis National Geographic.
Mosaik tersebut menjadi salah satu pencapaian paling penting dalam upaya pelestarian sejarah Titanic.
Namun, yang paling menggugah adalah temuan di medan puing-puing kapal. Di antara sisa-sisa kapal yang megah, seperti haluan, buritan, dan ketel uap, terdapat pemandangan memilukan—sepasang sepatu yang tersisa di lokasi tersebut.
Sepatu itu menjadi pengingat kuat tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi setelah Titanic menabrak dasar laut.
Dalam waktu sekitar 30 menit setelah kapal tenggelam, semua penumpang yang terjebak di air dingin meninggal karena hipotermia.
Mereka yang tidak menggunakan jaket pelampung perlahan tenggelam ke dasar laut, menyebar di antara puing-puing kapal.
Laut dalam yang memiliki kadar kalsium karbonat sangat rendah dengan cepat melarutkan tulang manusia dalam waktu sekitar lima tahun.
Akibatnya, yang tersisa hanyalah barang-barang pribadi, seperti sepatu, yang tetap berada di posisi yang sama seperti saat dikenakan. Inilah alasan mengapa upaya pelestarian situs Titanic menjadi sangat penting.
Situs ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi monumen bagi korban tragedi tersebut.
Mengambil barang dari lokasi ini sama halnya dengan merusak saksi bisu dari peristiwa besar yang mengguncang dunia.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan