Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Ditemukan! Spesies Baru Laba-laba Berbisa di Australia

Via Ponamon • Senin, 17 Maret 2025 | 13:54 WIB

Atrax christenseni adalah laba-laba corong Sydney terbesar dari tiga laba-laba yang sebelumnya dianggap sebagai satu spesies. (Kredit gambar: © Kane Christensen)
Atrax christenseni adalah laba-laba corong Sydney terbesar dari tiga laba-laba yang sebelumnya dianggap sebagai satu spesies. (Kredit gambar: © Kane Christensen)

 

RADARPAPUA - Laba-laba jaring corong Sydney dikenal memiliki racun yang sangat berbahaya.

Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa laba-laba ini sebenarnya terdiri dari tiga spesies berbeda.

Salah satu spesies, yang dijuluki "Newcastle big boy," memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan yang lain.

Para peneliti menemukan bahwa salah satu laba-laba terbesar dan paling berbisa di Australia ternyata bukan hanya satu spesies, melainkan tiga spesies yang berbeda.

Bahkan, salah satu dari mereka memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan spesies lainnya.

Laba-laba jaring corong Sydney (Atrax robustus) memiliki tubuh berwarna hitam mengilap dan dapat tumbuh hingga panjang 1,5 inci (3,8 sentimeter).

Laba-laba ini juga dikenal sebagai salah satu arakhnida paling berbisa bagi manusia.

Laba-laba ini mendapatkan namanya karena bentuk liangnya yang sempit, panjang, serta dilapisi sutra.

Mereka sering ditemukan di daerah pinggiran kota dan kerap masuk ke dalam rumah saat musim panas, ketika laba-laba jantan keluar dari sarangnya untuk mencari pasangan.

Racunnya mengandung zat yang dapat menyerang sistem saraf manusia, sehingga gigitan dari laba-laba ini memerlukan penanganan medis segera.

Jika tidak ditangani, korban bisa meninggal dalam waktu 15 menit.

Sejak pertama kali dideskripsikan pada tahun 1877, para ilmuwan telah terus mempelajari laba-laba jaring corong Sydney dan spesies lainnya yang masih berkerabat dengannya.

Mereka juga telah mengidentifikasi lebih banyak jenis laba-laba jaring corong yang tersebar di berbagai wilayah Australia.

Dalam penelitian terbaru, ilmuwan mengumpulkan spesimen laba-laba liar dari berbagai daerah di Sydney dan menganalisis koleksi laba-laba jaring corong dari Museum Australia di Sydney, yang merupakan koleksi terbesar di dunia.

Dengan mengamati spesimen menggunakan mikroskop serta menganalisis susunan genetiknya, para peneliti berhasil mengidentifikasi bahwa laba-laba jaring corong Sydney sebenarnya terdiri dari tiga spesies berbeda.

Temuan ini dipublikasikan pada 13 Januari di jurnal BMC Ecology and Evolution.

Spesies asli yang pertama kali dideskripsikan sebagai Atrax robustus tersebar di seluruh wilayah kota Sydney dan sekitarnya.

Spesies kedua, Atrax montanus, pertama kali dideskripsikan hampir 100 tahun yang lalu tetapi sempat dianggap tidak akurat, hingga penelitian ini mengonfirmasi keberadaannya.

Spesies ini banyak ditemukan di wilayah hutan hujan di selatan dan barat Sydney.

Spesies ketiga, yang lebih besar, adalah Atrax christenseni, yang ditemukan di wilayah sekitar Newcastle, sekitar 170 km utara Sydney.

Nama Atrax christenseni diberikan sebagai penghormatan kepada Kane Christensen, mantan kepala bagian laba-laba di Australian Reptile Park, yang pertama kali mendeskripsikan laba-laba ini pada awal 2000-an.

Christensen juga memberikan julukan "anak besar" kepada laba-laba ini, yang merupakan spesies terbesar dari ketiganya, dengan ukuran mencapai 3,5 inci (9 cm).

Danilo Harms, salah satu peneliti sekaligus arachnolog dari Universitas Göttingen, Jerman, mengatakan kepada Live Science bahwa timnya adalah yang pertama kali secara sistematis mendefinisikan hubungan antara ketiga spesies ini.

"Anda akan mengira bahwa laba-laba seperti itu telah diteliti hingga tuntas... karena sangat relevan.

Ada relevansi praktis karena orang-orang digigit setiap tahun," ujar Harms. "Menemukan bahwa sangat sedikit yang telah dilakukan, menyelidiki hal-hal yang sangat mendasar yang ingin Anda ketahui, sungguh mengejutkan."

Antibisa pertama untuk laba-laba jaring corong dikembangkan pada tahun 1981. Sejak saat itu, tidak ada lagi kematian yang tercatat akibat gigitan laba-laba ini.

Namun, perbedaan antara ketiga spesies ini mungkin menunjukkan bahwa antibisa yang ada saat ini belum seefektif yang seharusnya.

Laba-laba jaring corong tidak dikenal sebagai hewan agresif, tetapi mereka dapat menyerang jika merasa terancam.

Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk berhati-hati saat bertemu dengan laba-laba ini.

Harms menambahkan bahwa memahami perbedaan antara ketiga spesies ini serta komposisi racun mereka dapat membantu dalam pengembangan antibisa yang lebih spesifik.

Misalnya, masing-masing spesies mungkin memiliki kadar senyawa beracun yang berbeda, yang dapat berkontribusi pada efektivitas antibisa.(RP)

 

Sumber : livescience.com

Editor : Via Ponamon
#Laba laba jaring corong #Racun laba laba #Spesies baru laba laba