RADARPAPUA - Seorang sejarawan menemukan bukti baru bahwa tambang emas di Ghozza, Mesir, menggunakan tenaga kerja paksa.
Penemuan belenggu besi mengindikasikan bahwa beberapa pekerja di tambang tersebut adalah tahanan atau budak.
Hal ini sejalan dengan catatan sejarah yang menyebutkan adanya kerja paksa di tambang pada era Ptolemaik.
Tambang emas memiliki peran penting dalam ekonomi Mesir kuno, terutama setelah ditaklukkan oleh Alexander Agung.
Pada periode Ptolemaik, produksi emas meningkat pesat untuk membiayai proyek publik dan ekspansi militer.
Ekskavasi terbaru mengungkap dua fase utama aktivitas di tambang Ghozza yang mencerminkan perubahan kondisi kerja.
Pada fase pertama, tambang tampak seperti desa dengan rumah, bangunan administrasi, dan pemandian.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja saat itu menerima upah dan memiliki kehidupan yang layak.
Namun, kondisi berubah drastis pada fase kedua, di mana sebagian pekerja tidak lagi mendapatkan upah.
Bukti terkuat dari adanya tenaga kerja paksa adalah penemuan belenggu besi di dekat fasilitas penyimpanan.
Belenggu ini digunakan untuk mengikat kaki pekerja, yang akan memperlambat pergerakan mereka dan memperburuk kondisi kerja.
Para arkeolog juga menemukan tempat reparasi benda logam, yang mungkin digunakan untuk memperbaiki belenggu.
Sejarawan mencatat bahwa penggunaan tenaga kerja paksa di tambang bukanlah hal mengejutkan.
Teks sejarah telah menyebutkan adanya buruh paksa, meski asal mereka belum jelas—mungkin tawanan perang atau kriminal.
Dengan penemuan belenggu ini, teori perbudakan dalam pertambangan Mesir kuno semakin diperkuat.
Studi ini membuka kembali diskusi tentang bagaimana kekayaan Mesir kuno diperoleh dengan cara yang tidak manusiawi.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah pekerja yang dibelenggu adalah budak atau kelompok lain.
Namun, satu hal yang pasti: kejayaan Mesir kuno tidak terlepas dari keringat dan penderitaan mereka yang tertindas.(aj)