Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Bangkai Badak Berbulu Ditemukan dalam Kondisi Terawat di Siberia

Via Ponamon • Selasa, 18 Maret 2025 | 13:14 WIB

Cula badak berbulu yang ditemukan di samping bangkai mumi yang diletakkan di atas tengkorak fosil di sebuah museum. (Kredit gambar: Michiel Yakovlev/NEFU)
Cula badak berbulu yang ditemukan di samping bangkai mumi yang diletakkan di atas tengkorak fosil di sebuah museum. (Kredit gambar: Michiel Yakovlev/NEFU)

 

 

RADARPAPUA - Para penambang di Republik Sakha, Rusia, baru-baru ini menemukan bangkai badak berbulu yang terawetkan dengan sangat baik, lengkap dengan tanduk dan jaringan lunak yang masih utuh.

Penemuan ini akan segera digali sepenuhnya dalam beberapa bulan ke depan untuk diteliti lebih lanjut oleh para ilmuwan.

Penemuan ini terjadi ketika para penambang emas di Siberia menggali lokasi tambang baru dan menemukan bangkai hewan purba tersebut.

Foto sisa-sisa jasad badak berbulu itu pertama kali muncul di media sosial Rusia, Telegram, pada 2 Agustus.

Setelah laporan penemuan ini, tim peneliti dari North-Eastern Federal University (NEFU) di Yakutsk segera mengunjungi lokasi tersebut dan berhasil menemukan cula badak tersebut.

Berdasarkan pernyataan yang diterjemahkan dari NEFU, sisa mumi badak berbulu (Coelodonta antiquitatis) akan segera digali untuk penelitian lebih lanjut.

"Ini adalah penemuan yang benar-benar unik yang akan memungkinkan kita mempelajari sejarah wilayah tersebut, fauna purba, iklim, dan kondisi geologisnya secara lebih mendalam," ujar Anatoly Nikolaev, rektor NEFU, dalam pernyataannya.

Siberia yang tertutup permafrost memang menawarkan kondisi ideal untuk pelestarian makhluk zaman purba.

Suhu dingin yang ekstrem membuat jaringan lunak hewan yang mati mengalami dehidrasi dan terkunci dalam kondisi yang menyerupai "kapsul waktu" beku.

Penemuan jaringan lunak dalam kondisi terawat seperti ini tergolong langka dan sangat berharga bagi dunia sains.

Para ilmuwan dapat memperoleh wawasan mendalam tentang kehidupan hewan tersebut dan lingkungannya pada masa lampau.

Selain itu, kesempatan untuk mengekstraksi DNA purba dari spesimen ini juga meningkat secara signifikan.

Maxim Cheprasov, peneliti senior sekaligus kepala laboratorium Museum Mammoth NEFU, mengungkapkan bahwa ini adalah kasus kelima di mana ilmuwan menemukan badak berbulu dengan jaringan lunak yang masih utuh.

"Sampai hari ini, belum ada penemuan langka seperti itu dalam koleksi Museum Mammoth," jelasnya. "Dalam sejarah modern NEFU, ini adalah penemuan pertama seperti itu."

Badak berbulu diketahui hidup pada zaman Pleistosen, sekitar 2,6 juta hingga 11.700 tahun lalu.

Mereka pertama kali muncul sekitar 300.000 tahun lalu dan menyebar di seluruh Eurasia utara.

Saat zaman es terakhir berakhir, habitat mereka semakin menyusut hingga akhirnya hanya tersisa di sebagian Siberia.

Sekitar 10.000 tahun lalu, spesies ini punah akibat kombinasi perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Saat ini, tim peneliti NEFU tengah mempelajari tanduk badak berbulu tersebut sebelum melakukan penggalian lebih lanjut.

"Menurut parameter morfologi, tanduk itu milik individu dewasa," kata Cheprasov. "Usia biologis dan jenis kelamin hewan yang tepat akan ditentukan setelah studi menyeluruh terhadap bangkai itu sendiri."

Penemuan badak berbulu ini merupakan bagian dari berbagai proyek penelitian NEFU yang bertujuan untuk mengkaji fauna raksasa zaman es di Siberia.

Pada bulan Juni lalu, para peneliti juga melakukan nekropsi terhadap mumi serigala berusia 44.000 tahun yang ditemukan dalam kondisi beku di Republik Sakha.(RP)

 

Sumber : livescience.com


 

Editor : Via Ponamon
#penemuan fosil #siberia #Badak berbulu #DNA Purba