RADARPAPUA - Para peneliti baru saja mengungkap identitas tiga fosil ular yang mati berdempetan sekitar 38 juta tahun lalu di wilayah yang kini dikenal sebagai Wyoming.
Selama bertahun-tahun, fosil tersebut menjadi misteri, tetapi kini diketahui bahwa mereka berasal dari spesies yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya.
Fosil-fosil ini pertama kali ditemukan pada tahun 1976 di Formasi White River.
Studi pada tahun 1986 menggambarkan perilaku berkelompok ular tersebut, yang kemungkinan besar dilakukan untuk menjaga kehangatan dan perlindungan selama musim dingin.
Menurut pernyataan dari University of Alberta, fosil ini menjadi bukti pertama yang jelas mengenai perilaku sosial reptil dalam catatan fosil. Analisis menunjukkan bahwa ular-ular ini mungkin berhibernasi bersama, mirip dengan perilaku ular garter (Thamnophis) masa kini.
Dalam studi terbaru yang diterbitkan pada 19 Juni di Zoological Journal of the Linnean Society, para ilmuwan menggunakan pemindaian CT resolusi tinggi untuk meneliti fosil secara lebih mendetail.
Berdasarkan hasil analisis, para peneliti menyimpulkan bahwa fosil tersebut berasal dari spesies baru yang berkerabat dengan ular boa modern, yang kemudian diberi nama Hibernophis breithaupti.
Nama ini berasal dari kombinasi kata Latin "hibernare," yang berarti "melewati musim dingin," dan kata Yunani "ophis," yang berarti "ular," yang mencerminkan perilaku sosial unik ular ini.
"Hal ini sungguh tidak biasa bagi reptil," ujar Michael Caldwell, seorang paleontolog vertebrata dan ahli biologi evolusi dari University of Alberta.
"Dari hampir 15.000 spesies reptil yang hidup saat ini, tidak ada satu pun yang berhibernasi seperti ular garter."
Ular garter sendiri biasa membentuk kelompok besar dalam sarang komunal antara bulan Oktober hingga April untuk menjaga kehangatan,
menurut National Park Service. Dengan berkumpul dalam kelompok, ular-ular ini dapat bertahan di suhu rendah.
"Mereka tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri, sehingga harus menemukan cara untuk menyimpan panas sebanyak mungkin selama musim dingin, dan mereka melakukannya dengan membentuk kelompok besar," kata Caldwell.
Para peneliti menduga bahwa H. breithaupti juga berkumpul dengan alasan yang sama. Fosil-fosil tersebut mungkin merupakan bukti langsung dari perilaku sosial mereka sebelum akhirnya mati.
Dugaan sementara menyebutkan bahwa ular-ular ini terperangkap dalam banjir kecil saat berada di sarang musim dingin mereka, lalu terkubur dengan cepat oleh lumpur berpasir halus, sehingga fosil mereka tetap terawetkan dalam satu kelompok.
Proses pengawetan ini menjaga struktur kerangka tetap lengkap dan terartikulasi, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada fosil ular, mengingat ular memiliki ratusan ruas tulang belakang yang mudah tersebar setelah kematian.
"Di berbagai koleksi museum di seluruh dunia, mungkin terdapat hampir satu juta ruas tulang ular yang tidak terartikulasi," ujar Caldwell.
"Menemukan serpihan tulang ular itu mudah. Tetapi menemukan seekor ular yang utuh? Itu langka."(RP)
Sumber : livescience.com