Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Evolusi Bulu Burung: Dari Dinosaurus hingga Diversifikasi Modern

Prisilia Rumengan • Minggu, 23 Maret 2025 | 18:42 WIB

Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi

RADARPAPUA - Bulu burung adalah struktur unik yang berfungsi untuk terbang, mengatur suhu tubuh, dan berkomunikasi. Namun, tahukah Anda bahwa bulu burung berasal dari struktur sederhana yang dikenal sebagai proto-feathers?

Proto-feathers pertama kali muncul pada dinosaurus sekitar 200 juta tahun lalu. Struktur ini berbentuk filamen silindris tanpa cabang dan awalnya berfungsi sebagai insulasi termal serta ornamen tubuh.

Penelitian terbaru dari Universitas Jenewa (UNIGE) mengungkap bahwa jalur sinyal molekuler Sonic Hedgehog (Shh) berperan dalam pembentukan bulu. Studi ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana evolusi menghasilkan keragaman bentuk bulu burung.

Dengan menghambat jalur Shh pada embrio ayam, peneliti menemukan bahwa bulu berkembang menjadi bentuk mirip proto-feathers dinosaurus. Namun, seiring waktu, sebagian besar bulu kembali tumbuh normal, menunjukkan ketahanan genetik dalam perkembangan bulu.

Eksperimen ini juga menunjukkan bahwa skala kaki ayam dapat berubah menjadi bulu jika jalur Shh diaktifkan. Ini membuktikan bahwa jalur sinyal molekuler berperan besar dalam pembentukan struktur tubuh burung.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jaringan genetik yang mengatur perkembangan bulu telah menjadi sangat stabil selama evolusi. Bahkan gangguan signifikan pun sulit untuk mengubah prosesnya secara permanen.

Dengan memahami lebih dalam interaksi genetik ini, para ilmuwan berharap dapat mengungkap lebih banyak tentang bagaimana inovasi morfologi seperti proto-feathers pertama kali muncul.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#penelitian #Bulu Burung #sains #dinosaurus #Evolusi