RADARPAPUA - Para ilmuwan menemukan bahwa spesies salmon terbesar yang pernah hidup, Oncorhynchus rastrosus, mungkin menggunakan giginya yang menyerupai gading untuk menghadapi saingan, melindungi diri dari pemangsa, dan menggali sarang.
Seekor salmon prasejarah raksasa memiliki gigi mencolok yang menonjol dari kedua sisi moncongnya, seperti yang diungkap dalam sebuah studi terbaru.
Diperkirakan mampu tumbuh hingga 2,7 meter, O. rastrosus merupakan spesies salmon Pasifik terbesar yang pernah diketahui, lebih dari dua kali lipat ukuran salmon Chinook (Oncorhynchus tshawytscha) yang hanya mencapai sekitar 0,9 meter.
Para ilmuwan telah lama tertarik dengan bentuk gigi unik O. rastrosus, yang tercatat dalam fosil tengkoraknya.
Awalnya, mereka mengira giginya melengkung ke bawah seperti taring kucing besar, sehingga spesies ini dikenal sebagai "salmon bertaring tajam."
Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan pada 24 April di jurnal PLOS One mengungkapkan bahwa giginya justru lebih mirip gading babi hutan yang menonjol ke samping.
"[O. rastrosus memiliki] ciri-ciri sangat unik yang tidak ditemukan di tempat lain," kata Kerin Claeson, profesor anatomi di Philadelphia College of Osteopathic Medicine, kepada Live Science.
Dideskripsikan pertama kali pada 1970-an, O. rastrosus hidup di perairan yang kini dikenal sebagai wilayah Pasifik Barat Laut. Fosilnya diperkirakan berasal dari 12 hingga 5 juta tahun yang lalu.
Menurut Claeson, O. rastrosus adalah kerabat dekat salmon Pasifik modern, terutama sockeye, tetapi bukan nenek moyangnya.
Mirip dengan salmon Chinook, O. rastrosus kemungkinan lahir di sungai air tawar dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut sebelum kembali untuk bertelur.
Namun, berbeda dari Chinook yang memangsa ikan lain, salmon purba ini adalah pemakan plankton dengan cara menyaring air menggunakan sisir insang.
Sekitar 4,75 juta tahun lalu, O. rastrosus punah. Fosil pertamanya ditemukan di California dan Oregon, tetapi tidak dalam kondisi menyatu, sehingga para ilmuwan awalnya salah dalam merekonstruksi posisi giginya.
"Wajar saja jika kita berasumsi bahwa saat Anda mengembalikan [gigi] ini ke tempatnya, susunannya akan seperti itu," ujar Claeson.
Pada 2010-an, bukti baru menantang asumsi tersebut. Selama ekspedisi tahun 2014 di Gateway Quarry, Oregon, ditemukan fosil tambahan termasuk tengkorak jantan dan betina yang masih menyatu, memperlihatkan orientasi gigi yang menonjol ke samping.
Pemindaian CT mengonfirmasi bahwa gigi tersebut memang tumbuh menyamping, bukan ke bawah, sehingga rekonstruksi sebelumnya dianggap keliru. Karena itu, nama umum spesies ini diubah menjadi "salmon bergigi runcing."
Meskipun ukurannya besar, O. rastrosus kemungkinan menjadi sasaran pemangsa zaman itu. "Seekor individu akan menghasilkan banyak daging," kata Claeson.
Meskipun tujuan pasti dari giginya belum diketahui, gigi tersebut mungkin membantu bertahan dari pemangsa, bersaing dengan sesama, atau menggali sarang di dasar sungai.
Claeson berharap dapat meneliti lebih lanjut pola keausan gigi untuk menentukan fungsinya secara lebih akurat.(RP)
Sumber : livescience.com
Editor : Via Ponamon