RADARPAPUA – Mitologi Nordik dikenal luas melalui karya-karya seperti Prose Edda dan Poetic Edda yang ditulis pada abad ke-13.
Meski demikian, banyak yang bertanya-tanya, seberapa tua sebenarnya mitologi dan dewa-dewa dalam tradisi ini? Beberapa penemuan arkeologi mengungkapkan jejak-jejaknya lebih jauh ke masa lampau, bahkan sebelum era Viking dimulai.
Menurut Bernt Ø. Thorvaldsen, seorang profesor di Universitas Norwegia Tenggara, mitologi Nordik berkembang sejak orang mulai berbicara dalam Bahasa Nordik Kuno, yang digunakan antara tahun 700 hingga 1350 M.
Thorvaldsen menyebutkan bahwa mitologi ini sudah ada jauh sebelum kedatangan agama Kristen dan terus berkembang setelahnya. Namun, asal usul pasti dari mitos-mitos ini masih penuh teka-teki.
Salah satu penemuan yang menarik adalah sebuah brakteat emas yang ditemukan di Denmark pada tahun 2020.
Brakteat ini bertuliskan "dia adalah anak buah Odin," menjadikannya sebagai prasasti tertua yang menyebutkan nama Odin.
Sebelumnya, nama Odin juga tercatat pada jepitan jubah dari abad ke-6 yang ditemukan di Jerman selatan.
Selain itu, sejumlah motif pada brakteat dari Periode Migrasi (400-570 M) memperlihatkan adegan yang tampaknya berasal dari mitologi Nordik. Motif tersebut menggambarkan pertempuran antara dewa dan makhluk mitos, seperti Tyr yang meletakkan tangannya di mulut Fenrir atau ular Midgard Jörmungandr yang menggigit ekornya sendiri. Penemuan ini menunjukkan bahwa beberapa mitos mungkin sudah ada sejak zaman itu.
Julie Lund, seorang profesor arkeologi di Universitas Oslo, mencatat bahwa meski mitos sering berubah seiring waktu, beberapa struktur inti dalam mitologi ini tampaknya sudah ada sejak abad ke-5 Masehi.
Salah satu elemen penting dalam kepercayaan Nordik adalah hubungan manusia dengan hewan. Misalnya, Odin yang dapat berubah menjadi burung dan memperoleh pengetahuan melalui gagaknya, serta kepercayaan bahwa manusia memperoleh kekuatan dari hewan seperti babi hutan dan beruang.
Mitos Nordik juga mungkin memiliki akar yang lebih dalam, bahkan lebih jauh ke masa Indo-Eropa kuno.
Beberapa sarjana percaya bahwa mitos tentang Ymir, raksasa pertama dalam mitologi Nordik, memiliki kesamaan dengan mitos dalam budaya India dan Persia kuno. Dalam mitologi India, Yama adalah manusia pertama yang meninggal, sementara dalam mitologi Persia, Yima adalah asal mula umat manusia.
Thorvaldsen berpendapat bahwa ada kaitan antara Ymir, Yima, dan Yama, yang menunjukkan adanya warisan budaya Indo-Eropa yang lebih tua.
Selain itu, bukti-bukti arkeologi juga menunjukkan bahwa beberapa unsur dalam mitologi Nordik mungkin berasal dari mitologi Jermanik kuno.
Misalnya, dalam buku Germania yang ditulis oleh sejarawan Romawi Tacitus sekitar tahun 98 M, disebutkan tentang dewi Nerthus yang mungkin berhubungan dengan dewa Nordik Njord.
Nama dewi ini, menurut beberapa ahli, bisa jadi merupakan cikal bakal nama Njord dalam tradisi Nordik.
Penemuan arkeologi lainnya, seperti gerobak yang ditemukan di Denmark, juga menunjukkan adanya praktik keagamaan yang terkait dengan dewi-dewi seperti Nerthus.
Gerobak ini digunakan dalam perayaan yang melibatkan ritual pengorbanan, yang menambah wawasan tentang bagaimana mitologi dan agama Nordik berkembang.
Sementara itu, nama-nama tempat di Skandinavia juga memberikan petunjuk tentang pentingnya dewa-dewa tertentu dalam mitologi Nordik.
Nama seperti Torshov (kuil Thor) atau Ullensaker (berhubungan dengan dewa Ullr) menunjukkan pengaruh dewa-dewa yang sudah ada jauh sebelum Zaman Viking.
Meskipun banyak yang masih menjadi misteri, jelas bahwa mitologi Nordik adalah warisan budaya yang sangat kaya dan berkembang selama berabad-abad.
Dari masa Zaman Besi hingga Viking, mitos dan dewa-dewa ini terus berubah, mencerminkan pandangan hidup dan kepercayaan masyarakat Skandinavia pada tiap era.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan