RADARPAPUA - Peneliti menemukan rahasia baru dari mosaik terkenal Alexander Agung yang ditemukan di kota kuno Pompeii. Mosaik ini ternyata dibuat dari sekitar 2 juta potongan batu kecil yang berasal dari berbagai tempat, bahkan dari luar wilayah kekuasaan Alexander Agung.
Alexander Agung pernah memimpin kerajaan besar yang membentang dari Eropa Tenggara sampai ke Pakistan. Tapi, potongan batu kecil yang membentuk mosaik ini berasal dari tempat-tempat jauh seperti Italia, Spanyol, dan Tunisia di Afrika Utara.
Apa itu Mosaik Alexander?
Mosaik ini dibuat sekitar 2.000 tahun yang lalu dan terkubur ketika Gunung Vesuvius meletus pada tahun 79 M. Mosaik ini ditemukan tahun 1831 di rumah mewah di Pompeii yang disebut "Rumah Faun". Sekarang, mosaik ini disimpan di Museum Arkeologi Nasional di Napoli, Italia.
Mosaik ini dianggap sebagai salah satu karya seni paling penting dari zaman Romawi. Gambar dalam mosaik ini menunjukkan Alexander Agung dan tentaranya mengalahkan Raja Persia, Darius III, dalam Pertempuran Issus pada tahun 333 SM. Di latar belakang mosaik ada pohon tunggal yang memperkuat bukti bahwa ini memang menggambarkan pertempuran tersebut.
Penelitian Baru:
Museum Napoli mulai mempelajari dan merawat kembali mosaik ini pada tahun 2020. Mereka menggunakan alat khusus seperti sinar-X untuk mengetahui bahan dan asal potongan batu yang digunakan. Para peneliti menemukan bahwa mosaik ini dibuat dengan 10 warna berbeda, seperti putih, cokelat, merah, kuning, merah muda, hijau, abu-abu, biru, hitam, dan kaca berwarna.
Wajah Alexander Agung dalam mosaik ini dibuat dengan sangat teliti. Batu-batu kecil berwarna merah muda digunakan dengan hati-hati untuk menampilkan cahaya dan warna wajahnya, membuatnya terlihat sangat nyata dan hidup.
Dari Mana Asal Batunya?
Peneliti menyimpulkan bahwa:
-
Batu putih berasal dari pegunungan di Italia.
-
Batu merah muda berasal dari Portugal.
-
Batu kuning berasal dari kota kuno di Tunisia.
-
Batu merah tua mungkin berasal dari Yunani.
Selain itu, para ahli juga menemukan sisa-sisa lilin dan gips yang kemungkinan ditambahkan pada zaman modern untuk melindungi mosaik ini selama proses pemindahan dari Pompeii ke museum.
Mereka juga menemukan beberapa bagian di belakang mosaik yang kosong dan lemah. Ini perlu diperhatikan agar tidak merusak mosaik saat perbaikan selanjutnya. (*)
Editor : Richard Lawongan