Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Mumi Kucing Bertaring Panjang Ditemukan di Rusia Menawarkan Wawasan Baru tentang Kehidupan Fauna Prasejarah

Via Ponamon • Selasa, 22 April 2025 | 14:43 WIB

Ilustrasi (Freepik)
Ilustrasi (Freepik)

 

RADARPAPUA - Para ilmuwan di Rusia telah menemukan mumi seekor anak kucing bertaring panjang yang luar biasa terawetkan di permafrost Siberia.

Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang adaptasi dan kehidupan predator purba yang hidup di lingkungan dingin ekstrem.

Pada tahun 2020, sekelompok penambang yang mencari gading mammoth di dekat Sungai Badyarikha, Yakutia, menemukan bangkai seekor anak kucing yang membeku.

Setelah penelitian mendalam, para ilmuwan mengidentifikasi spesimen ini sebagai anggota genus Homotherium, predator bertaring panjang yang hidup sekitar 4 juta hingga 12.000 tahun yang lalu.

Radiokarbon menunjukkan bahwa anak kucing ini berusia sekitar 35.000 tahun saat ditemukan.

Baca Juga: Peneliti Inggris Temukan Bukti Buaya Dikurbankan untuk Dewa Sobek dalam Mumi Mesir Kuno Berusia 3.000 Tahun

Mumi ini mempertahankan sebagian besar jaringan lunak, termasuk otot, kulit, dan bulu. Para peneliti memperkirakan bahwa anak kucing ini berusia sekitar tiga minggu saat meninggal.

Fitur-fitur seperti bantalan kaki yang bulat dan tidak adanya bantalan karpal menunjukkan adaptasi khusus untuk berjalan di salju dan suhu rendah.

Perbandingan anatomi antara mumi ini dan anak singa modern mengungkapkan perbedaan signifikan.

Misalnya, bibir mumi ini dua kali lebih tinggi dari anak singa, yang mendukung teori bahwa taring panjang Homotherium mungkin tersembunyi di dalam jaringan lunak.

Selain itu, leher, mulut, dan anggota tubuh depan yang lebih besar menunjukkan bahwa tubuh mereka berperan penting dalam teknik berburu, bukan hanya kepala dan taring.

Baca Juga: Peneliti Inggris Temukan Bukti Buaya Dikurbankan untuk Dewa Sobek dalam Mumi Mesir Kuno Berusia 3.000 Tahun

Penemuan ini juga menyoroti dampak perubahan iklim. Mencairnya permafrost di wilayah seperti Yakutia, akibat pemanasan global, membuka peluang untuk menemukan lebih banyak fosil yang terawetkan dengan baik.

Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang pelepasan gas rumah kaca yang terperangkap dalam es.

Mumi anak kucing bertaring panjang ini bukan hanya penemuan paleontologis yang menakjubkan, tetapi juga jendela ke masa lalu yang membantu kita memahami adaptasi dan evolusi predator purba dalam menghadapi lingkungan ekstrem.

Dengan kondisi yang hampir sempurna, spesimen ini memberikan data berharga bagi ilmuwan untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan di Zaman Es.(RP)

 

Sumber : popularmechanics.com

Editor : Via Ponamon
#Homotherium #permafrost Siberia #adaptasi predator purba #mumi kucing bertaring panjang