Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Bangkai Paus di British Columbia Menjadi Ekosistem Laut Dalam yang Bertahan Lebih dari 15 Tahun

Via Ponamon • Rabu, 23 April 2025 | 09:52 WIB

Bangkai paus (by wildestanimal//Getty Images)
Bangkai paus (by wildestanimal//Getty Images)

RADARPAPUA - Di kedalaman laut lepas pantai British Columbia, Kanada, sebuah fenomena luar biasa tengah berlangsung—sebuah bangkai paus yang tenggelam sejak tahun 2009 kini menjadi rumah yang penuh kehidupan.

Penemuan ini membuka mata dunia sains akan bagaimana kematian satu makhluk raksasa bisa menjadi awal kehidupan bagi ratusan lainnya.

Fenomena ini dikenal sebagai whale fall, dan kisahnya benar-benar menakjubkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Ocean Networks Canada (ONC) dan Ocean Exploration Trust (OET) mencatat bahwa kerangka paus sepanjang 5 meter tersebut masih menjadi ekosistem aktif hingga hari ini, lebih dari 15 tahun setelah kematiannya.

Para ilmuwan telah mengunjungi lokasi ini beberapa kali—di tahun 2012, 2020, dan terakhir pada Oktober 2023—menggunakan kendaraan bawah laut yang dilengkapi kamera canggih.

“Ini seperti oase di padang gurun laut dalam,” ungkap salah satu peneliti dari tim ONC. Mereka menemukan bahwa kerangka paus itu menjadi tempat tinggal bagi berbagai jenis makhluk laut dalam seperti kepiting, ikan rattail, isopoda raksasa, hingga koloni cacing tabung.

Baca Juga: Fosil Langka Berusia 444 Juta Tahun Ditemukan di Afrika Selatan dengan Jaringan Lunak yang Masih Utuh

Salah satu hal paling mengejutkan adalah cacing tabung yang ditemukan pada kunjungan pertama masih bertahan hidup di tempat yang sama, menempel di tulang rahang paus.

Fenomena whale fall ini melalui tiga fase yang saling berkaitan. Fase pertama disebut Mobile Scavenger Stage, di mana hewan-hewan besar seperti hiu dan ikan-ikan pemangsa lainnya mengerubungi bangkai dan memakan dagingnya.

Fase kedua adalah Enrichment Opportunist Stage, ketika organisme kecil seperti cacing dan krustasea mulai datang untuk memanfaatkan sisa-sisa jaringan.

Fase terakhir, Sulfophilic Stage, adalah yang paling unik—tulang-tulang yang tersisa mengeluarkan lemak yang diurai oleh bakteri khusus, menghasilkan senyawa sulfur yang mendukung kehidupan mikroorganisme unik yang tidak ditemukan di tempat lain.

“Yang membuat kami kagum adalah daya tahan ekosistem ini. Kami pikir hanya akan bertahan beberapa tahun, tapi 15 tahun kemudian, kehidupan masih terus berkembang di situ,” tambah peneliti dari OET.

Baca Juga: Penemuan Tengkorak Lengkap Bastetodon Syrtos, Predator Puncak Purba yang Mengubah Pemahaman Kita tentang Ekosistem Afrika Kuno

Temuan ini juga menjadi pengingat penting betapa berartinya peran paus dalam menjaga keanekaragaman hayati laut dalam.

Dalam hidupnya, paus menjadi bagian dari ekosistem permukaan laut. Tapi bahkan setelah mati, tubuhnya masih memberi kehidupan bagi banyak organisme yang tidak akan bisa bertahan hidup di tempat lain.

Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara semua unsur di lautan—bahkan kematian pun punya makna ekologis yang dalam.

Lebih jauh, penelitian ini membuka peluang baru bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana kehidupan bisa bertahan di kondisi ekstrem, seperti dasar laut yang gelap dan miskin nutrisi.

Temuan ini juga menginspirasi diskusi baru tentang bagaimana kehidupan bisa muncul di planet lain dengan kondisi serupa, seperti bulan Europa milik Jupiter atau Enceladus milik Saturnus.

Dengan semua fakta menarik ini, tidak heran jika dunia ilmiah terus memantau situs whale fall ini sebagai laboratorium alami yang berharga untuk studi ekosistem laut dalam.(RP)

 

Sumber : popularmechanics.com

Editor : Via Ponamon
#dekomposisi paus #Keanekaragaman hayati laut #ekosistem laut dalam