RADARPAPUA - Selama ini arkeolog mengira bahwa makam raksasa dari Zaman Batu di Irlandia dibangun untuk kaum bangsawan.
Namun, studi DNA terhadap 55 kerangka dari makam berusia 5.000 tahun mengungkap hal berbeda:
struktur megah itu kemungkinan besar dibangun untuk komunitas luas, bukan untuk satu garis keturunan kerajaan.
Penelitian ini diterbitkan dalam Cambridge Archaeological Journal pada 2 April lalu.
Temuan ini mengubah cara kita memandang masyarakat Neolitik di Irlandia.
Pada periode Neolitik (3900–2500 SM), orang-orang Irlandia membangun "monumen megalitik" —
struktur batu besar yang berfungsi sebagai tempat pemakaman dan ritual.
Salah satu jenisnya adalah passage tomb, gundukan tanah besar dengan lorong batu,
lebih tua dari Stonehenge maupun piramida Mesir.
Makam seperti Newgrange masih bisa ditemukan berdiri kokoh di lanskap Irlandia.
Penelitian sebelumnya menyebut bahwa para pembangun makam ini adalah petani awal
dan bahwa makam dibangun oleh elit kuno dengan praktik perkawinan sedarah.
Namun, studi terbaru oleh Neil Carlin dari University College Dublin menyatakan sebaliknya:
orang-orang yang dimakamkan tidak memiliki hubungan genetik dekat.
Ini berarti makam tersebut bukan milik dinasti eksklusif.
Sebaliknya, monumen ini kemungkinan menjadi titik temu bagi kelompok-kelompok berbeda.
Mereka berkumpul secara musiman untuk bekerja, berpesta, dan mengubur anggota komunitas mereka.
Hal ini menandai perubahan besar dari empat abad sebelumnya yang memiliki sistem pemakaman lebih sederhana
dan bersifat kekeluargaan ketat.
Masyarakat tampaknya bertransformasi menjadi lebih terbuka dan inklusif.
DNA menunjukkan bahwa orang-orang dalam makam besar memiliki keragaman genetik tinggi.
Mereka kemungkinan berasal dari kelompok kekerabatan luas yang saling berinteraksi dan menikah silang.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran struktur sosial masyarakat setelah 3600 SM.
Carlin menyebutnya sebagai bentuk masyarakat yang "lebih egaliter", bukan dinasti elit yang berkuasa.
Namun, alasan pasti di balik perubahan ini masih menjadi misteri.
Arkeolog kini melihat bahwa pemakaman Neolitik bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir,
melainkan juga pusat kegiatan budaya dan spiritual.
Kumpulan makam yang saling berdekatan menunjukkan
kemungkinan adanya ritual bersama antara kelompok-kelompok berbeda.
Pergeseran ini membuka wawasan baru tentang bagaimana masyarakat prasejarah membangun identitas kolektif.
Penelitian lebih lanjut masih diperlukan, termasuk kajian DNA tambahan, artefak, dan arsitektur makam.
Dengan pendekatan multidisipliner, para ilmuwan berharap dapat memahami sepenuhnya
transformasi sosial dan budaya besar yang terjadi di Irlandia kuno.
Bukti-bukti ini mengingatkan kita bahwa warisan batu raksasa menyimpan cerita manusia
yang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini kita bayangkan.(aj)
Editor : Richard Lawongan