Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Arkeolog Temukan Bukti Pembakaran Publik di Guatemala yang Tandai Runtuhnya Kekuasaan Kerajaan Maya

Prisilia Rumengan • Kamis, 24 April 2025 | 17:24 WIB

Ilustrasi artefak pembakaran suku maya (canva.com)
Ilustrasi artefak pembakaran suku maya (canva.com)

RADARPAPUA – Sebuah penemuan arkeologis di Guatemala membuka lembar baru dalam sejarah suku Maya.

Para peneliti mengungkap adanya peristiwa pembakaran publik pada abad ke-9 yang menandai runtuhnya dinasti kerajaan K’anwitznal dan munculnya era baru di kota kuno Ucanal.

Peristiwa ini terjadi di ibu kota kerajaan, dekat area pemakaman utama. Arkeolog menemukan bahwa artefak dan jasad yang semula disemayamkan di makam dipindahkan ke alun-alun kota untuk dibakar di hadapan publik.

Di antara benda-benda tersebut terdapat topeng batu bertatahkan permata, manik-manik giok, fragmen mahkota, dan benda-benda kerajaan lainnya—semuanya berasal dari makam bangsawan Klasik Akhir.

Tim peneliti, yang dipimpin Christina Halperin dari Universitas Montreal, menegaskan bahwa pembakaran ini bukan sekadar insiden biasa.

Ini adalah simbol dramatis dari peralihan kekuasaan dan pembongkaran rezim lama. Tak ada usaha untuk menyelamatkan ornamen atau tulang-tulang yang kemudian ditumpuk dan ditimbun menjadi bagian dari konstruksi bangunan baru.

Api yang digunakan dalam ritual tersebut mencapai suhu lebih dari 800°C dan membakar jasad setidaknya empat orang dewasa serta ribuan potongan artefak berharga.

Penemuan ini terjadi pada tahun 2022 saat penggalian di lokasi pembangunan piramida candi. Temuan ini unik karena memberikan bukti konkret mengenai dinamika politik Maya yang seringkali hanya diketahui lewat prasasti atau spekulasi sejarah.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, seorang pemimpin baru bernama Papmalil naik ke tampuk kekuasaan.

Berasal dari kalangan non-bangsawan, Papmalil membawa perubahan besar di Ucanal. Ia memimpin pembangunan ulang kota dan memperluas aktivitas sipil dan seremonial, menunjukkan bahwa Ucanal tetap hidup bahkan setelah keruntuhan kekuasaan lama.

Para arkeolog melihat peristiwa pembakaran ini bukan sebagai akhir, melainkan permulaan. Ritual api itu adalah titik balik yang memungkinkan kebangkitan politik dan sosial yang baru.

Momen ini, yang sarat emosi dan simbolisme, mengubah cara kita memahami kehancuran dan kebangkitan dalam peradaban Maya.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#artefak #Pembakaran #arkeolog #penemuan #suku maya