RADARPAPUA - Selama ini, bangsa Fenisia dikenal sebagai pelaut ulung dan pencipta alfabet awal dunia. Banyak ahli menduga mereka merupakan keturunan langsung bangsa Kanaan yang disebut dalam Alkitab. Namun, studi genetika terbaru membuktikan bahwa mayoritas orang Fenisia ternyata tidak memiliki darah Kanaan.
Penelitian yang dimuat di Nature ini mengungkap, budaya Fenisia memang berakar di tanah Kanaan, namun penyebarannya lebih melalui budaya daripada migrasi besar-besaran. Artefak dan pola pemukiman Fenisia tersebar dari Sicilia hingga Afrika Utara sekitar 1000 SM, tapi DNA mereka bercerita lain.
Awalnya, upaya melacak asal-usul ini terhambat karena kebiasaan kremasi Fenisia yang menghancurkan DNA. Untungnya, sekitar 600 SM mereka mulai memakamkan jenazah, membuka peluang bagi para ilmuwan untuk meneliti ratusan kerangka dari situs Fenisia di seluruh Mediterania.
Hasil analisis DNA menunjukkan kejutan besar: kebanyakan Fenisia tidak memiliki leluhur dari Levant (kawasan Israel-Lebanon modern). Sebaliknya, mereka merupakan campuran dari penduduk lokal Sicilia, Yunani, Kepulauan Aegea, dan Afrika Utara. Budaya Fenisia rupanya diserap luas oleh penduduk lokal.
Koloni Fenisia seperti Kartago berkembang pesat, dari desa kecil menjadi kota besar dalam dua abad. Ini menegaskan bahwa penduduk asli berperan besar dalam pertumbuhan koloni, tertarik oleh budaya, perdagangan, dan kemakmuran yang dibawa para pendatang.
Peneliti juga menemukan hubungan keluarga lintas lautan: sepupu kedua ditemukan terkubur di Sicilia dan Afrika Utara. Ini menunjukkan betapa Mediterania menjadi jalur utama koneksi sosial dan budaya, mempercepat pertukaran manusia dan ide.
Penemuan ini mengubah pandangan kita tentang sejarah bangsa Fenisia. Mereka bukan penakluk dengan darah murni Kanaan, melainkan komunitas terbuka yang merangkul banyak bangsa, membuktikan bahwa budaya besar bisa menyebar tanpa mengandalkan dominasi populasi.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan