Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Penemuan Dua Belati Zaman Perunggu Berusia 3.000 Tahun di Ladang Jagung Jerman Menyimpan Misteri Ritual Kuno

Via Ponamon • Rabu, 30 April 2025 | 13:44 WIB

Kypros//Getty Images
Kypros//Getty Images

 

RADARPAPUA – Dua belati dari Zaman Perunggu berusia lebih dari 3.000 tahun ditemukan dalam posisi tegak di ladang jagung dekat Kutenholz, sebuah kota kecil di Lower Saxony, Jerman.

Penemuan ini bukan hanya menarik karena usia dan kondisi artefak, tetapi juga karena posisi mereka yang tidak biasa dan konteks penemuan yang tidak terkait dengan pemakaman.

Pada tahun 2017, seorang pengguna detektor logam menemukan fragmen logam di ladang tersebut.

Namun, baru pada tahun 2024, tim arkeolog dari Universitas Hamburg melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat geomagnetik dan penggalian manual.

Mereka menemukan dua belati perunggu yang terkubur sekitar 30 cm di bawah permukaan tanah.

Yang menarik, kedua belati tersebut ditemukan dalam posisi hampir tegak, menunjukkan bahwa mereka mungkin sengaja ditanam dalam posisi tersebut.

Baca Juga: Antler Rusa Berusia 7.500 Tahun di Swedia Ternyata Senjata Suci yang Digunakan dalam Ritual Zaman Batu

Belati tersebut terbuat dari perunggu yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1500 SM dan kemungkinan dibuat di wilayah Eropa Tengah atau Timur.

Meskipun gagangnya terbuat dari kayu, bahan organik tersebut tidak bertahan lama, sehingga hanya bagian logam yang ditemukan. Panjang belati diperkirakan seukuran lengan bawah manusia dewasa.

Tobias Mörtz, seorang arkeolog dari Universitas Hamburg, menyatakan bahwa penemuan ini menunjukkan bahwa belati tersebut kemungkinan besar bukan digunakan sebagai senjata dalam pertempuran.

Posisi mereka yang tegak dan lokasi penemuan yang tidak terkait dengan pemakaman mengindikasikan bahwa belati tersebut mungkin merupakan bagian dari ritual atau persembahan spiritual.

Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang praktik spiritual dan kepercayaan masyarakat Zaman Perunggu di Eropa Utara.

Meskipun belum ada bukti pasti mengenai tujuan spesifik dari penanaman belati tersebut, para peneliti berpendapat bahwa mereka mungkin digunakan dalam ritual untuk menghormati dewa atau roh leluhur, atau sebagai bagian dari upacara untuk memastikan kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah.

Temuan ini juga menantang pandangan sebelumnya yang menganggap belati Zaman Perunggu hanya sebagai simbol status atau senjata dalam pertempuran.

Dengan adanya bukti baru ini, para arkeolog kini dapat mempertimbangkan fungsi ritual dan spiritual dari artefak tersebut dalam konteks budaya Zaman Perunggu.

Baca Juga: Gua Terpencil di Big Bend Menyimpan Rahasia Teknik Berburu Kuno dengan Panah Beracun

Penemuan ini juga menyoroti pentingnya metode deteksi modern dalam penelitian arkeologi. Penggunaan perangkat geomagnetik dan teknik penggalian yang hati-hati memungkinkan para peneliti untuk menemukan dan mempelajari artefak yang mungkin telah hilang atau rusak akibat aktivitas pertanian selama berabad-abad.

Dengan semakin banyaknya penemuan seperti ini, kita dapat berharap untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan dan kepercayaan masyarakat Zaman Perunggu, serta bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan dan dunia spiritual mereka.

Penemuan dua belati Zaman Perunggu di Kutenholz, Jerman, bukan hanya menambah koleksi artefak arkeologi, tetapi juga membuka jendela baru untuk memahami kompleksitas budaya dan spiritualitas masyarakat kuno.(RP)

 

Sumber : popularmechanics.com

Editor : Via Ponamon
#Ritual Zaman Perunggu #Penemuan arkeologi Jerman #Artefak Perunggu #Belati Zaman Perunggu #kepercayaan kuno