RADARPAPUA – Sebuah penemuan luar biasa mengubah cara pandang arkeolog terhadap sejarah Mesir dan Yunani.
Di Kom el-Nugus, sebuah situs arkeologi kuno di sebelah barat Alexandria, tim arkeolog internasional berhasil mengungkap pemukiman Mesir kuno dari masa Kerajaan Baru yang dikenal juga sebagai Zaman Keemasan Mesir yang tersembunyi selama ribuan tahun di bawah reruntuhan kota Yunani kuno.
Dipimpin oleh Sylvain Dhennin dari Universitas Lyon, tim peneliti menggali lebih dalam ke area reruntuhan Helenistik yang sebelumnya dikenal sebagai sisa-sisa pemukiman dan pekuburan Yunani dari era Alexander Agung.
Namun, yang mengejutkan, mereka menemukan jejak pemukiman yang jauh lebih tua, berasal dari sekitar tahun 1550–1292 SM, mencakup masa pemerintahan firaun terkenal seperti Akhenaten, Seti I, hingga Ramses II.
Di antara temuan penting adalah artefak seperti amphora bertanda nama Meritaten, putri Akhenaten dan Nefertiti, yang menandakan bahwa wilayah tersebut kemungkinan memiliki kaitan erat dengan produksi anggur.
Ini diperkuat dengan ditemukannya penghancur anggur dan sistem pengumpulan air yang menunjukkan pemukiman ini dirancang untuk bertahan di musim tertentu—kemungkinan sebagai tempat garnisun militer atau permukiman musiman.
Dhennin menyebut struktur unik situs Kom el-Nugus dengan lereng curamnya telah lama membingungkan para arkeolog.
Kini, bentuk alami "kom" tersebut mulai masuk akal seiring ditemukannya fondasi kuil Helenistik dan reruntuhan dari berbagai periode, termasuk potongan batu dengan cartouche Seti II dan relief Ra-Horakhty—dewa matahari berkepala elang.
Selain itu, beberapa blok batu dari kuil yang didedikasikan oleh Ramses II, serta kapel dari Dinasti ke-19 dan ke-20, semakin memperkuat dugaan bahwa situs ini dulunya merupakan pusat aktivitas keagamaan dan ekonomi.
Bangunan di pemukiman itu tersusun dari batu bata lumpur yang membentuk jalan utama ke arah selatan, dan tampaknya dibangun kembali beberapa kali sepanjang masa.
Yang menarik, pemukiman tersebut diperkirakan telah aktif sebelum kedatangan Alexander Agung pada tahun 332 SM, saat orang Mesir menyambut pasukannya sebagai pembebas dari dominasi Persia.
Namun jejak pemukiman Mesir yang mereka bangun di bawah tanah perlahan terkubur oleh lapisan sejarah Yunani dan Helenistik.
Penggalian akan terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Meski tak ditemukan harta karun emas seperti di makam Tutankhamun, Dhennin menegaskan bahwa artefak-artefak ini tetap merupakan harta arkeologi yang luar biasa.
Penemuan ini membuka lembaran baru dalam sejarah hubungan antara Mesir dan Yunani kuno, sekaligus memperlihatkan betapa kompleks dan kaya budaya yang terkandung di tanah Alexandria.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan