RADARPAPUA - Seekor kuda nil mungkin tidak akan segera menyaingi burung, tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa mamalia raksasa ini bisa "terbang" — setidaknya selama 0,3 detik.
Temuan ini berasal dari studi perdana yang mendalami pola gerak dan langkah kaki kuda nil saat bergerak cepat.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Royal Veterinary College di Inggris dan dipublikasikan di jurnal ilmiah PeerJ.
Mereka menemukan bahwa saat mencapai kecepatan maksimal, kuda nil dapat terangkat sepenuhnya dari tanah sebuah fase yang dalam biomekanika dikenal sebagai “fase terbang”.
“Ini mengejutkan,” kata Prof. John Hutchinson, pemimpin studi sekaligus pakar biomekanika evolusioner, kepada The Guardian.
“Kami belum pernah benar-benar tahu seperti apa pola gerakan kuda nil saat berlari karena mereka sangat berbahaya untuk didekati dan lebih aktif di malam hari serta kerap berada di dalam air.”
Untuk mengumpulkan data, tim merekam pergerakan kuda nil dalam berbagai kecepatan di sebuah taman margasatwa bernama Flamingo Land di Yorkshire Utara.
Peneliti Emily Pringle, bersama petugas sains Kieran Holliday, mendokumentasikan frame demi frame pergerakan kuda nil dan mendapati bahwa saat berlari cepat, kuda nil benar-benar ‘mengudara’ selama 15 persen dari durasi gerak mereka.
Studi ini juga mengungkap bahwa secara atletik, kuda nil mengungguli gajah. Gajah, yang tidak pernah sepenuhnya kehilangan kontak dengan tanah saat bergerak, tak menunjukkan fase terbang.
Namun, peneliti menyebut bahwa kuda nil tidak se-atletis badak, yang memiliki kecepatan dan kemampuan berpacu lebih baik.
Meski proses analisis data melalui video disebut Hutchinson sebagai pekerjaan yang “membosankan dan menyiksa”, hasilnya sangat penting.
Menurut Holliday, pemahaman lebih baik terhadap pola gerak spesies besar seperti kuda nil bisa memperbaiki cara manusia merawat dan menjaga mereka di penangkaran.
“Ini bukan sekadar soal kuda nil melompat,” ujar Hutchinson. “Ini adalah bagian dari pemahaman dasar tentang bagaimana hewan besar bergerak di daratan — dan ternyata, sesekali di udara juga.”(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan