RADARPAPUA - Djenné, sebuah kota kuno yang terletak di Mali selatan, terus memikat dunia dengan sejarahnya yang kaya dan warisan budaya yang luar biasa.
Berada di pertemuan Sungai Bani dan dataran banjir antara Sungai Bani dan Niger, Djenné menempati posisi strategis 354 km barat daya Timbuktu.
Selama musim hujan, kota ini bahkan berubah menjadi pulau, membuktikan keunikan geografisnya.
Meskipun asal-usul pastinya masih diselimuti misteri, Djenné diyakini didirikan antara abad ke-8 hingga ke-13. Kota ini tumbuh di dekat situs Djenné-Jeno, salah satu permukiman tertua di Afrika sub-Sahara yang sudah ada sejak 250 SM.
Seiring kemunduran Djenné-Jeno, Djenné muncul sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan pedagang dari Sudan Barat hingga hutan tropis Guinea.
Lokasinya yang strategis di jalur perdagangan emas Bitou, Lobé, dan Bouré menjadikan kota ini sangat berpengaruh dalam perekonomian kawasan.
Djenné sempat berada di bawah Kekaisaran Mali sebelum direbut oleh Kekaisaran Songhai pada abad ke-15, lalu mengalami pasang surut kekuasaan termasuk dikuasai oleh Fulani Macina dan akhirnya oleh kolonial Prancis pada tahun 1893.
Di masa penjajahan Prancis, Masjid Agung Djenné yang berdinding lumpur dibangun kembali pada tahun 1906–1907, menggantikan struktur sebelumnya yang runtuh karena pertikaian internal dan tekanan penguasa agama.
Kejayaan Djenné tidak hanya terletak pada perannya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran Islam pada abad ke-17.
Tokoh-tokoh keagamaan dari seluruh kawasan datang untuk belajar di kota ini. Namun, pengaruhnya mulai berkurang saat kota Mopti, yang terletak di timur laut Djenné, mengambil alih peran komersial utama.
Hingga kini, Djenné tetap menjadi pusat perdagangan lokal. Pasar Senin yang digelar di depan Masjid Agung tetap hidup dan ramai, menjadi denyut nadi ekonomi warga. Populasi Djenné tercatat sebanyak 26.267 jiwa pada tahun 2009.
Masjid Agung Djenné yang megah, dibangun dari batu bata lumpur, merupakan ikon arsitektur Sudan dan Sahel yang diakui dunia.
Bersama situs arkeologi Djenné-Jeno dan bangunan bersejarah lain seperti makam orang suci dan rumah tradisional djénné ferey, Djenné dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1988.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan