RADARPAPUA - Kota-kota kuno dari Peradaban Lembah Sungai Indus seperti Harappa dan Mohenjo-daro telah lama menarik perhatian arkeolog karena kekayaan artefak yang mereka tinggalkan.
Dari hasil penggalian, ditemukan berbagai benda yang mencerminkan kehidupan sehari-hari, teknologi, dan keyakinan spiritual masyarakatnya.
Artefak seperti patung, segel, dan alat-alat logam menunjukkan keterampilan luar biasa masyarakat Harappa.
Patung batu yang ditemukan memang terbatas dan cukup kasar, namun beberapa figurin memiliki kualitas seni yang tinggi. Figur tersebut mencakup pria duduk, hewan-hewan mistis, hingga gadis menari dari perunggu yang menampilkan teknik pengecoran maju seperti metode "lilin hilang". Karya ini mencerminkan kemampuan teknis tinggi, meskipun produksinya tergolong langka.
Kerajinan paling populer di Harappa adalah figur terakota, terutama perempuan berhias lengkap dan laki-laki berjanggut atau bertanduk.
Banyak figur ini diyakini mewakili dewa dan dewi, tetapi ada pula yang berfungsi sebagai mainan, seperti ibu dengan anak atau hewan bergerak. Mainan berbentuk monyet, kereta, dan ternak dengan kepala yang bisa digerakkan memberi gambaran tentang keseharian masyarakat.
Segel-segel kecil dari batu steatit menjadi salah satu penemuan paling ikonik. Umumnya, segel ini menampilkan hewan seperti "unicorn", banteng, gajah, dan harimau yang berdiri di depan simbol-simbol ritual.
Beberapa segel juga mengandung adegan mitologis yang kompleks dan misterius. Fungsi segel kemungkinan sebagai jimat maupun alat identifikasi dalam perdagangan. Tingkat kehalusan ukiran segel menunjukkan keterampilan yang jauh melampaui artefak lainnya.
Dalam hal teknologi logam, masyarakat Harappa menggunakan tembaga dan perunggu untuk membuat alat-alat seperti kapak, pisau, tombak, dan silet. Proses pembuatannya melalui pemukulan dan pengecoran sederhana. Temuan logam seperti emas, perak, dan timah juga menunjukkan keberagaman produksi—terutama untuk manik-manik, perhiasan, dan wadah kecil.
Kerajinan khusus lain mencakup produksi faience, sejenis tanah liat berglasir warna-warni yang digunakan untuk membuat jimat, manik-manik, dan bejana. Pengolahan batu, kerang, dan gading juga umum dilakukan untuk membuat perhiasan, sisir, gelang, dan berbagai hiasan lainnya. Manik-manik batu akik Harappa sangat terkenal karena tingkat ketelitian pembuatannya.
Tembikar menjadi produk massal utama. Sebagian besar dibuat dengan roda putar dan dicat dengan motif sederhana seperti pola tanaman, lingkaran, atau garis berskala. Piring dan bejana silinder berlubang adalah bentuk khas, meski fungsi bejana berlubang ini masih belum jelas hingga kini. Meskipun banyak tembikar tidak terlalu menarik dari sisi estetika, proses pembuatannya menunjukkan efisiensi dan keterampilan industri.
Penemuan fragmen tekstil katun di Mohenjo-daro memberi bukti awal bahwa masyarakat Indus telah mengenal teknik pemintalan, penenunan, dan kemungkinan pewarnaan kapas. Temuan ini menunjukkan bahwa industri tekstil telah berkembang sejak masa awal peradaban.
Sumber batu untuk perkakas dipasok dari pinggiran wilayah Indus. Salah satunya tambang batu api di Sukkur, yang memasok bilah-bilah batu ke Mohenjo-daro. Aktivitas ini menunjukkan adanya sistem distribusi bahan baku dan sentra produksi yang tersebar.
Keseluruhan artefak dan teknologi ini memberi gambaran betapa majunya masyarakat Indus dalam seni, kerajinan, dan spiritualitas—meski dalam banyak hal mereka belum mencapai kemegahan teknis seperti Mesopotamia. Namun warisan budaya mereka tetap menjadi salah satu pencapaian paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Asia Selatan.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan