Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

"Para Perempuan Anavlochos": Misteri Ritual dan Teknologi di Yunani Kuno

Prisilia Rumengan • Jumat, 9 Mei 2025 | 00:42 WIB

Menggunakan reproduksi resin patung Zaman Perunggu, Asisten Profesor UC Florence Gaignerot-Driessen akan membuat cetakan tanah liat untuk mempelajari lebih lanjut tentang proses produksi massal kuno.
Menggunakan reproduksi resin patung Zaman Perunggu, Asisten Profesor UC Florence Gaignerot-Driessen akan membuat cetakan tanah liat untuk mempelajari lebih lanjut tentang proses produksi massal kuno.

RADARPAPUA - Di puncak gunung berbatu di Kreta, Yunani, tersembunyi potongan-potongan tanah liat yang memuat kisah para perempuan dari masa ribuan tahun silam. Mereka bukan bangsawan atau dewi, melainkan figur sederhana dari tanah liat—disebut “Para Perempuan Anavlochos.”

Florence Gaignerot-Driessen, peneliti dari University of Cincinnati, memimpin proyek ekskavasi dan rekonstruksi ini. Dengan bantuan teknologi seperti pemindaian 3D, resin modern, dan printer 3D, ia mencoba menghidupkan kembali bentuk asli patung-patung kecil dan plakat yang ditemukan di celah-celah bebatuan.

Uniknya, semua figur menggambarkan perempuan. Sebagian besar mengenakan gaun tradisional, jubah epiblema, dan topi polos. Beberapa bahkan memegang bayi. Meski dibuat dari tanah liat murah dan tanpa banyak detail di bagian belakang, justru kesederhanaan ini menunjukkan bahwa siapa pun—bahkan rakyat biasa—bisa mempersembahkan simbol spiritual mereka.

Kenapa figur-figur ini disimpan di puncak gunung? Peneliti menduga ini bagian dari ritual perempuan: peralihan dari anak-anak ke dewasa, dari gadis menjadi ibu. Tak ada teks kuno yang menjelaskan maknanya. Namun, dari cara figur itu diletakkan, dihancurkan, dan bentuknya, ada indikasi kuat bahwa ini bukan tindakan acak.

Lewat experimental archaeology, Gaignerot-Driessen dan tim mencoba merekonstruksi proses pembuatan dan pemecahan figur tersebut. Mahasiswa UC bahkan akan mempraktikkan sendiri membuat replika figur dari tanah lokal untuk memahami langkah-langkah produksi massal ribuan tahun silam.

Proyek ini bukan hanya tentang temuan arkeologi—ini adalah pertemuan antara masa lampau dan masa depan. Di mana tanah liat kuno bertemu printer 3D, dan kisah perempuan Yunani kuno kembali disuarakan di era digital. (aj)

 

Editor : Prisilia Rumengan
#Yunani kuno #Perempuan #3D printing #arkeologi #sejarah