RADARPAPUA - Sebuah studi terbaru mengungkap pola sosial tersembunyi dari Kerajaan Israel dan Yehuda dengan cara yang tak biasa: melalui analisis statistik terhadap nama-nama pribadi yang ditemukan dalam artefak kuno. Hasilnya? Israel ternyata jauh lebih kosmopolitan daripada Yehuda.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PNAS ini menggunakan metode statistik keanekaragaman yang biasa dipakai dalam ekologi. Dengan menganalisis lebih dari 1.000 nama dari cap, ostraka, dan kendi bertulisan, para peneliti menemukan bahwa nama-nama di Israel lebih beragam daripada di Yehuda.
Keragaman nama menunjukkan keterbukaan budaya, sementara homogenitas menunjukkan sentralisasi kekuasaan. Dalam kasus Yehuda, keragaman nama justru menurun seiring waktu—menandakan penguatan kontrol agama dan sosial menjelang runtuhnya kerajaan.
"Nama bukan sekadar label; mereka adalah artefak budaya," kata Dr. Barak Sober, salah satu peneliti. Melalui nama, kita bisa melihat struktur sosial, interaksi budaya, hingga sistem kepercayaan suatu masyarakat kuno.
Peneliti juga menemukan pola geografis menarik: Ibukota Samaria di Israel justru memiliki keragaman nama lebih rendah dibanding daerah pinggirannya. Sebaliknya, Yerusalem di Yehuda memiliki nama lebih beragam daripada wilayah sekitarnya—kemungkinan karena arus pengungsi dari utara.
Studi ini membuktikan bahwa data onomastik bisa menjadi alat ampuh untuk memahami dinamika sosial masa lalu, bahkan saat dokumentasi tertulis sangat terbatas. Dengan pendekatan ini, sejarah menjadi lebih kaya dan multidimensi.
Lebih lanjut, metode ini juga berhasil diaplikasikan ke data modern di berbagai negara dan menunjukkan pola serupa. Ini membuktikan bahwa cara kita memberi nama—dari zaman kuno hingga kini—mencerminkan jati diri dan struktur masyarakat kita.(aj)
Editor : Richard Lawongan