RADARPAPUA - Sebuah pencapaian besar dalam arkeologi maritim diumumkan oleh tim gabungan dari Australian National Maritime Museum, Flinders University, Silentworld Foundation, dan Pemerintah Australia Selatan. Mereka meyakini telah menemukan lokasi karamnya kapal dagang Belanda Koning Willem de Tweede yang tenggelam di Guichen Bay, dekat kota Robe, Australia Selatan, pada Juni 1857.
Kapal seberat 800 ton ini memiliki sejarah tragis. Hanya beberapa hari sebelum tenggelam, kapal tersebut menurunkan lebih dari 400 penambang Tionghoa yang menuju ladang emas di Bendigo dan Ballarat, Victoria. Namun saat kembali berlayar, kapal itu dihantam badai. Enam belas dari 25 awak kapal tewas, dan jenazah mereka kemudian dikuburkan di bukit pasir Long Beach, bagian timur Guichen Bay.
Proyek pencarian dimulai pada April 2022, dengan tujuan utama menemukan dan memetakan reruntuhan kapal. Melalui penggunaan magnetometer laut dan detektor logam bawah air, tim mendeteksi komponen besi besar seperti windlass (alat untuk mengangkat jangkar) dan bagian kerangka besi yang muncul dari dasar laut. Papan kayu yang terawetkan baik ditemukan di bawah windlass, menandakan kemungkinan besar sisa struktur lambung kapal masih utuh namun terkubur.
Temuan ini semakin diperkuat dengan fragmen keramik kasar asal Tiongkok abad ke-19 yang ditemukan di pantai pada Maret 2023. Lokasi penemuan juga sesuai dengan catatan sejarah, dan tidak ada catatan karamnya kapal lain di area tersebut.
Kisah kapal Koning Willem de Tweede menyimpan nilai sejarah besar: tidak hanya sebagai artefak kolonial dan teknologi pelayaran abad ke-19, tetapi juga sebagai saksi bisu migrasi besar-besaran penambang Tionghoa ke Australia dalam masa demam emas. Penemuan ini memberi kesempatan langka untuk memahami lebih dalam dinamika sosial dan tragedi manusia dalam sejarah migrasi Asia ke Australia.
Didukung oleh Kementerian Luar Negeri Belanda, termasuk Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Australia, proyek ini menandai kerja sama pelestarian warisan maritim antarnegara.
Monitoring lebih lanjut akan dilakukan untuk mendokumentasikan kondisi situs dan mengeksplorasi struktur kapal yang mungkin terungkap seiring perubahan dasar laut.(aj)
Editor : Richard Lawongan