RADARPAPUA - Pada Mei 1972, seorang peneliti muda ikut ekspedisi perburuan burung bersama warga Anuta, pulau kecil di Kepulauan Solomon. Perjalanan 20 jam menggunakan kano cadik menuju pulau tak berpenghuni Patutaka menjadi awal dari riset seumur hidup tentang pelayaran tradisional Pasifik.
Selama ribuan tahun, pelaut dari Polinesia, Mikronesia, hingga Melanesia telah mengarungi Samudra Pasifik hanya bermodalkan kano, bintang, angin, dan gelombang. Mereka tidak menggunakan kompas atau GPS, namun tetap bisa mencapai pulau-pulau kecil yang tersebar ribuan kilometer jauhnya dengan akurasi yang menakjubkan.
Teknik navigasi ini mengandalkan pemetaan mental wilayah laut, posisi bintang, arus laut, dan pola angin. Bintang menjadi pemandu utama: pelaut menjaga haluan kapal agar sejajar dengan bintang tertentu yang terbit atau tenggelam di atas pulau tujuan mereka.
Namun navigasi tidak semudah mengikuti satu bintang. Karena bintang terus bergerak, para pelaut membentuk "jalur bintang"—rangkaian bintang yang mereka ikuti bergantian saat satu bintang terlalu tinggi atau menghilang dari cakrawala. Ini membutuhkan pemahaman astronomi yang mendalam.
Saat siang, pelaut menggunakan matahari atau gelombang laut untuk menentukan arah. Swell, atau gelombang besar yang terbentuk oleh angin jarak jauh, menjadi petunjuk yang dirasakan lewat gerakan kapal. Bahkan, mereka bisa mengenali gelombang pantulan yang menandakan keberadaan pulau di kejauhan.
Petunjuk lain datang dari burung, warna langit, formasi awan, hingga cahaya laut misterius yang disebut te lapa. Sebagian pelaut di Kepulauan Solomon meyakini cahaya ini menunjuk arah pulau yang jauh, meski keberadaannya masih diperdebatkan oleh ilmuwan Barat.
Warisan pelayaran ini sempat diragukan oleh sejarahwan modern. Namun sejak 1970-an, riset etnografi dan pelayaran eksperimental seperti perjalanan Hōkūleʻa membuktikan kemampuan luar biasa para navigator Pasifik. Hingga kini, warisan ini terus hidup, menjadi bukti kebijaksanaan maritim leluhur yang tak kalah dari teknologi modern.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan