RADARPAPUA – Perang Mawar yang terjadi di Inggris antara tahun 1455 hingga 1485 adalah salah satu bab tergelap dalam sejarah kerajaan Inggris, saat dua wangsa besar, Lancaster dan York, saling bertarung demi takhta.
Konflik yang berlangsung selama tiga dekade ini melibatkan pertumpahan darah, ambisi keluarga bangsawan, dan perubahan besar dalam tatanan kekuasaan Inggris yang pada akhirnya mengantarkan munculnya Dinasti Tudor.
Akar konflik ini bermula dari klaim takhta yang sah oleh kedua pihak, masing-masing keturunan dari Raja Edward III.
Lancaster telah menguasai takhta sejak 1399, namun situasi berubah saat Raja Henry VI, penguasa dari Lancaster, mengalami masa-masa kepemimpinan yang lemah dan bahkan diganggu penyakit jiwa.
Ketidakstabilan ini mendorong Richard, Adipati York ke-3, untuk tampil sebagai pemimpin alternatif yang kuat.
Didukung oleh keluarga besar dan barisan bangsawan berpengaruh seperti Neville dan Bourchier, Richard mengambil langkah politik penting saat Henry VI jatuh sakit pada 1453.
Dengan dukungan kuat dari Earl of Warwick, keponakannya, Richard ditunjuk sebagai pelindung kerajaan.
Namun, ketika Henry pulih dua tahun kemudian, ia kembali memberikan kekuasaan kepada istrinya, Ratu Margaret dari Anjou, yang dikenal ambisius dan keras kepala.
Hal inilah yang memicu bentrokan pertama di St Albans pada 22 Mei 1455, yang dimenangkan oleh pihak York.
Ketegangan memuncak kembali pada 1459, ketika Margaret bersiap menyerang dan Richard memilih memberontak.
Setelah beberapa kemenangan dan kekalahan, termasuk pelarian York ke Irlandia, pihak Lancaster mengambil langkah keras dengan menjatuhkan hukuman atas para pemberontak.
Pertempuran besar berikutnya terjadi di Northampton tahun 1460, ketika pasukan York yang dibantu Warwick berhasil mengalahkan Lancaster.
Richard mencoba mengklaim takhta namun justru tewas dalam pertempuran di Wakefield pada Desember 1460.
Namun, putranya, Edward, tidak tinggal diam. Setelah meraih kemenangan penting di Mortimer’s Cross, Edward muda memasuki London dan dinobatkan sebagai Raja Edward IV pada 4 Maret 1461.
Tak berhenti di situ, Edward dan Warwick mengejar pasukan Lancaster ke utara, dan dalam pertempuran paling berdarah di Towton, mereka berhasil mengukuhkan kemenangan.
Henry VI, Margaret, dan putra mereka terpaksa melarikan diri ke Skotlandia, menandai berakhirnya fase pertama dari Perang Mawar.
Pertarungan ini bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga cermin bagaimana kelemahan pemerintahan dan perebutan pengaruh di istana dapat membawa kehancuran besar.
Edward IV mungkin telah mengakhiri satu bab, namun perang ini belum usai—hingga akhirnya Dinasti Tudor muncul sebagai penyatu Inggris.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan